Length: Chaptered
Genre: Romance, sad
Main cast: Kang Hyena,
Park Johyun, Lee Sohee, So Seungho
Suporting: Lee Yoonji,
Ma Hyeri
Senja di musim gugur tak kalah indahnya dengan pagi.Warna langit
yang merah bercampur orange dan terkadang masih terlihat warna birunya, sangat senada
dengan warna pohon-pohon yang mulai berguguran. Udaranya pun semakin sejuk, membuatku
betah berlama-lama di halaman belakang, memandangi gumpalan awan merah
bercampur orange seperti gulali yang sering kumakan ketika SD.
Dan saat langit mulai gelap, kelap-kelip cahaya lampu bertebaran di kota Seoul. Kadang aku suka membayangkan kalau aku sedang berada di New York bukan Seoul. Terkadang suka senyum-senyum sendiri ketika membayangkannya. Aku benar-benar ingin kesana, ke New York. Kota termahal di Amerika, dan yang terindah menurutku. Disana juga ada Yoonjii sahabatku sejak kecil yang sedang berkuliah jurusan Sains. Oh Tuhan! Betapa beruntungnya Yoonji, kuliah di New York jurusan Sains pula. Aku yakin sepulangnya dia dari New York pasti dia jadi orang yang sangat jenius.
Dan saat langit mulai gelap, kelap-kelip cahaya lampu bertebaran di kota Seoul. Kadang aku suka membayangkan kalau aku sedang berada di New York bukan Seoul. Terkadang suka senyum-senyum sendiri ketika membayangkannya. Aku benar-benar ingin kesana, ke New York. Kota termahal di Amerika, dan yang terindah menurutku. Disana juga ada Yoonjii sahabatku sejak kecil yang sedang berkuliah jurusan Sains. Oh Tuhan! Betapa beruntungnya Yoonji, kuliah di New York jurusan Sains pula. Aku yakin sepulangnya dia dari New York pasti dia jadi orang yang sangat jenius.
“Hyena..” seorang
laki-laki bersuara berat memanggilku yang cukup membuatku terkejut. Karenanya juga aku membuyarkan semua lamunanku tentang New York.
“Ayah!” kataku kesal. “Tumben ayah pulang saat jam makan
malam.”
“Biasanya kau senang kalau
ayah pulang cepat. Putri kecil ayah sudah bukan anak kecil lagi rupanya.” Kadang-kadang, ayah juga memanggilku dengan
sebutan ‘putri kecil’ ayah sama saja dengan
ibu.
“Makan malam
sudah siap!” teriak ibu dari ruang makan ketika ayah akan melanjutkan bicara. Ayah
tidak jadi bicara dan langsung menuju ruang makan. Aku berencana untuk menanyakan
lagi hal kemarin pada ibu tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat.
Makan malam kali
ini benar-benar terasa sangat sunyi. Tidak ada yang bicara satu pun padahal
biasanya ibu selalu mengoceh. Tapi setelah ayah menghabisakan makan malamnya dia
mulai bicara. “Ehem..” ayah memulai. “Jadi kau serius dengan ucapanmu kemarin malam?”
tanyanya padaku.
Aku mendongak sambil
menggigit sumpit dan ayah sedang menatapku, “Pertanyaan apa? Yang mana?”
“Kau
minta dibelikan aparteman, kan? Kau yakin berani dan bisa tinggal sendiri di
sana?” ayah kelihatan serius aku pun mengangguk mantap.
“Ibu tidak yakin kau
bisa, kau ini kan anak yang ceroboh,” aku yakin ibu berkata begitu karena tidak
ingin aku meninggalkan rumah ini.
“Sudahlah bu
jangan menganggap Hyena seperti anak kecil lagi dia kan sudah besar. Mulai
sekarang jangan manjakan dia lagi,” kata ayah pada ibu, “sebenarnya ayah dan
ibu sudah membelikanmu sebuah apartemen di dekat kampus. Ayah menunggu saat-saat
seperti ini,” ayah memalingkan wajahnya ke arahku dan sekarang dia bicara
padaku.
“Menunggu saat-saat seperti ini? Apa maksudnya?”
tanyaku.
“Ahh kau ini kelewat polos,
katanya sudah dewasa. Ayah membelikan apartemen sejak kau masuk semester
terakhir. Dugaan ayah benar semester terakhir ini kau pasti minta dibelikan apartemen.”
Nada bicara ayah menunjukan seakan-akan
aku ini anak manja.
“Jadi boleh?
Kapan aku bisa tinggal di sana?” kataku antusias.
“Kapan saja yang kau
mau,” ayah terdengar sangat bijaksana. Tapi ibu terlihat sangat tidak senang.
“Ibu sebenarnya ingin kau hidup mandiri tapi ibu masih tidak tega melepasmu,” kata
ayah mewakili ibu. Ibu hanya diam tidak bicara sepatah katapun.
“Tapi kenapa kemarin ibu
melarangku?” tanyaku.
“Ya itu tadi,” jawab
ayah.
***
Hari Minggu yang cerah dan udara sejuk yang pas membuatku bertambah
semangat menuju apartemen. Ya, hari ini aku memutuskan untuk tinggal di sana.
Aku memasukkan barang-barang ke dalam kotak-kotak besar serapih mungkin.
Setelah membujuk selama tiga hari, akhirnya ibu mengizinkanku untuk tinggal sendiri
di apartemen dan sekarang dia membantuku mengemasi barang. Sohee juga ikut membantuku.
Dia sangat terkejut ketika mendengarku akan tinggal di sebuah apartemen
‘sendiri’.
“Semua sudah
siap?” tanya ayah sambil memasukkan kotak-kotak ke bagasi mobil. Aku mengangguk
semangat, ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Ketika mobil ayah keluar,
aku melihat pria yang waktu itu menyapaku. Dia berjalan dengan santai dengan
kedua tangan dimasukan ke saku jaketnya dan dia tersenyum padaku sambil
melambaikan satu tangan. Aku tidak membalas senyumannya malah mengerutkan
kening karena bingung, kaca mobil ayahku terlihat gelap dari luar tapi kenapa
dia bisa melihatku padahal di samping masih ada Sohee dan dia hanya tersenyum
padaku. Apa karena hanya aku yang melihatnya? Sudahlah tidak usah dipikirkan,
aku rasa itu tidak penting.
Sepanjang perjalan mataku
tidak lepas dari pemandangan musim gugur yang indah ini. Pepohonan semakin hari
semakin merah, udara pun semakin dingin. “Sebegitu cintanya ya kau dengan musim
gugur?” tanya Sohee.
Aku mengangguk
pasti. “Aku tidak suka musim dingin karena dimana-mana tertutup salju. Jalan, atap
rumah, mobil, motor, bangku taman semua tertutup benda putih yang dingin itu. Jalanan
juga menjadi licin, udaranya pun sangat tidak bersahabat,” kataku.
“Bagaimana dengan
musim panas? Kau menyukainya?” tanya Sohee lagi.
“Tidak! Aku benci
musim panas. Aku harus memakai sunblock setiap kali keluar rumah. Di siang hari,
panas semakin menggila. Matahari seakan mengamuk dan udara terasa kotor.” Aku tahu
pasti ia akan bertanya soal musim semi. Sebenarnya Sohee pernah menanyakan musim
gugur tahun lalu tapi Sohee itu pelupa, kalau aku bilang ia pernah bertanya seperti
ini sebelumnya aku yakin ia akan berkata “Apa aku pernah? Aku tidak ingat” aku bosan
sekali mendengar perkataan itu.
“Musim semi?
Apa kau tidak suka juga? Musim semi tak kalah indah dengan musim gugur.
Bunga-bunga bermekaran, daun-daun di pohon juga mulai kembali, jalanan menjadi hijau
dan penuh warna-warni bunga” katanya.
“Ya, aku tahu itu tapi
masih lebih indah musim gugur.”
***
Apartemenku terletak di
tengah kota, letaknya sangat srategis. Apartemennya cukup luas dan nyaman, balkonnya
juga besar dan mengahadap taman yang ada di belakang gedung apartemen. Tamannya
luas, banyak pohon bertebaran di sana, mungkin sore ini aku akan bersepeda
disitu.
“Hyena, sedang apa kau?”
teriak ayah. Ketika sampai apartemen tadi aku langsung pergi ke balkon dan
melihat apa saja yang bisa kulihat dari atas sini. Aku selalu suka halaman belakang
dan balkon, tidak peduli besar atau kecil yang penting halaman dan balkon itu bisa
menunjukan keindahan alam yang menyegarkan ketika aku sedih atau senang. “Hyena,”
teriak ayah untuk yang kedua kalinya, sebaiknya aku menghampirinya sebelum dia
marah-marah.
“Apa yang harus
kulakukan ayah?” tanyaku.
“Tidak, kemari.” Lalu ayah
menunjukkan ruang tidurku.
Menurutku ruang
tidur ini sangat glamor. Warna dindingnya hijau muda yang memberikan kesan sejuk
dengan tempat tidur yang empuk dan nyaman dilapisi sprei yang lembut bermotif daun-daun
musim gugur dan selimut tebal berwarna putih. Ini benar-benar keren, pikirku,
dan di samping tempat tidur ada karpet besar nan lembut berpola ala Timur Tengah
ditambah TV flat menakjubkan. Di kedua sisi tempat tidur juga ada meja kayu
kecil lengkap dengan lampu mejanya. Ada juga rak buku di sudut ruangan dan di
sebelahnya terdapat meja tulis. Di dinding sebelah kanak terdapat sebuah papan
berukuran sedang untuk menempelkan catatan. Dari dulu kamarku selalu terdapat
papan untuk menempelkan catatan-catatan itu karena aku sering lupa.
“Baru ruangan ini yang
sempat di ganti catnya. Ruang tengah dan dapur belum sempat..” .
“Tidak apa-apa. Lagi pula
ruang-ruang lain sudah cukup bagus warnanya,” kataku sambil melihat sekeliling.
Langit-langit di ruang tengah cukup tinggi, berdinding cream cerah, sofa-sofanya
juga sangat nyaman dengan warna coklat tua yang memberikan kesan hangat dan
meja kaca dengann vas bunga di tengah-tengah. Setelah melihat ruang tengah aku pergi
menuju dapur untuk melihat-lihat. Dapurnya tak kalah keren, sangat bersih dan rapi.
Tempat cuci piring terletak di sebelah rak. Piring-piring putih polos yang
mengkilap tersusun rapi di rak begitu juga dengan gelas-gelasnya. Kulkas juga sudah
penuh dengan makanan, camilan, minuman dan bahan-bahan untuk memasak. Tapi untuk
apa ada bahan-bahan seperti itu? Aku kan tidak bisa memasak jadi percuma,
kecuali yang ada di lemari yang tergantung di dinding dapur. Di lemari itu baru
bisa kumasak. Yaiyalah, siapa yang tidak
bisa masak ramen instan?
“Bagaimana
menurutmu, nak?” tanya ibu dengan senyuman puas. Ibu terlihat senang melihatku terkesan
dengan apartemen ini.
“Ini sungguh
menakjubkan. Apartemen sederhana tapi begitu glamor dengan warna-warna
perabotnya. Terimakasih,” kataku sambil memeluk ibu dan ayah.
“Kau harus menelepon
ibu setiap hari. Kalau kau ingin makan tapi tidak bisa masak telpon ibu dan ibu
akan segera datang,” katanya.
“Ibu ini berlebihan
sekali. Bagaimana aku bisa mandiri kalau begini. Ibu tenang saja di rumah, aku akan
baik-baik saja di sini. Lagipula aku bisa belajar masak dengan Sohee,” aku menyikut
lengan Sohee. Sohee langsung mengangguk untuk meyakinkannya.
“Tapi untuk siang ini
ibu akan masak di sini, oke!” ibu langsung pergi ke dapur.
Tak lama, aroma
masakan tercium. Masakan ibuku tidak ada duanya, dari aromanya saja sudah enak.
***
Krrriiiinggg…..
Alarmku begitu mengganggu! Aku masih sangat lelah dan mengantuk,
awalnya aku ingin melanjutkan tidur tapi aku ingat ini hari Senin dan aku
kuliah pagi.
Aku beranjak
dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ketika keluar dari kamar aku mencium aroma
masakan, aku rasa ibu masih di sini. “Ibu kau masih di sini rupanya, sedang masak
ap….” aku sangat terkejut ketika melihat siapa yang sedang memasak di dapur. “Kau..
kau siapa? Kenapa kau di sini? Sedang apa kau di sini? Kenapa kau bisa ada di
dapurku? Ken..” aku merasa pernah melihatnya. Dia orang yang menyapaku saat aku
ingin pergi ke kampus ketika masih di rumah ayah.
‘”Tunggu, kau bukannya
yang waktu itu menyapaku pagi-pagi dan yang tersenyum padaku kemarin? Kenapa
kau bisa ada di sini? Darimana kau tahu password apartemenku? Aku pikir kau
tetangga baru di sana.’’
“Tenang dulu biar
kujelaskan..”
“Aku tidak mau dengar!
Sekarang juga kau keluar, dasar penyusup! Atau jangan-jangan kau ini seorang
mata-mata yang sedang memata-mataiku. Kalau tidak darimana kau tahu apartemenku
bahkan passwordnya? Ah tidak peduli siapa kau, keluar sekarang juga!” teriakku.
Aku terlalu kesal untuk mendengar penjelasannya, siapa yang tidak marah kalau
bangun tidur melihat orang asing di apartemen saat kau sedang sendiri? Semua
orang yang mengalaminya pasti akan mengira orang ini berniat jahat. Tapi dia malah
tertawa seakan aku ini sedang melakukan hal konyol. Entah darimana dia tahu apartemenku
tapi aku rasa kemarin dia mengikutiku. Dan darimana dia bisa tahu passwordnya?
Aku menatapnya
tajam dan berusaha menunjukkan kalau aku marah tapi lagi-lagi dia malah tertawa
melihat ekspresi wajahku “Hahaha. Kau ini lucu sekali. Tidak perlu marah begitu,
aku bukan pencuri. Aku hanya ingin membantumu merapikan tempat ini dan membuat kan
sarapan, kau tidak bisa memasak, kan?” tanyanya terdengar meremehkanku. Aku
melihat sekeliling dan ternyata benar dia merapikan apartemenku. Kemarin masih banyak
kotak-kotak yang berserakan dan barang-barang tidak tertata rapi.
“So??”
“So what?”
“Pergi sekarang
juga, penyusup! Aku yakin kau punya niat jahat, iya kan? Akui saja!” darahku
naik sampai ke ubun-ubun.
“Hemm.. bau apa ini?
Aahhh ayam gorengnya gosong. Astaga, ini semua akibat ulahmu, kalau saja kau tidak
mengajakku bicara,” katanya sambil mematikan kompor.
“Kenapa kau
menyalahkanku? Lagipula siapa suruh kau memasak, siapa suruh kau ada di sini?
Dapurku jadi penuh asap dan apartemenku jadi bau gosong, ini semua karena kau
bukan aku!” pria itu menghela napas dan meletakkan ayam yang gosong di meja.
“Ayamnya tidak bisa dimakan.
Aku buatkan yang lain saja ya,” katanya sambil membuka lemari es.
“Untuk apa?! Aku kan
sudah menyuruhmu keluar sejak tadi. Aku bisa masak sendiri, cepat pergi!” aku
membentak pria itu saking kesalnya.
“Kau bisa memasak?
Kenapa aku baru tahu. Kau tidak bisa membohongiku, aku tau kau tidak bisa masak”
dia meremehkanku lagi. Aku langsung mendorongnya keluar dan membanting pintu
ketika dia sudah di luar.
“Dasar penyusup! Masuk
ke rumah orang seenaknya!” cercaku. Untuk apa pria itu di sini? Tidak mungkin jika
ibu yang menyuruhnya kesini untuk merapikan dan membuat sarapan untukku, ibu pasti
akan bertanya padaku dulu. Aku harus segera mengganti password apartemen ini
supaya dia tidak masuk sembarangan lagi lalu segera mandi dan bergegas ke
kampus.
Setelah
semua beres, aku keluar dan segera pergi ke kampus. Tapi ketika aku keluar dari
apartemenku, pria tadi masih di sini. Dia berdiri di depan apartemenku dan
dengan santainya bersandar, melipat kedua tangan di depan dadanya, mengenakan
headset dan menggerakan kakinya. Tanpa berkata-kata atau apapun, aku segera
pergi menghindarinya.
“Hei,” katanya menahan
tanganku sambil melepas headsetnya.
“Apa? Kenapa masih di
sini? Aku mau kuliah, aku sudah terlambat dan itu semua gara-gara kau! Jadi sekarang lepaskan
tanganku!”
Lalu dia melepas
tanganku dan mengikutiku pergi. Aku menghela napas ketika masuk lift bersamanya. Aku bergeser menjauh darinya, pria
itu terus tersenyum geli melihatku. Setelah keluar dari lift, aku berlari
menghindarinya tapi tetap saja dia mengikutiku. Dia berjalan dengan santai tanpa
perlu berlari sepertiku. Hebat sekali dia. “Berhentilah mengikutiku!” teriakku
supaya orang di sekitarku mendengarnya.
“Siapa yang mengikutimu?
Haha kau ini. Tidak ada jalan pulang selain lewat sini.” Baiklah, ini cukup memalukan.
Aku yakin wajahku merah padam sekarang. Aku berlari seperti orang gila menghindarinya
tapi ternyata arah rumahnya searah denganku, itu sedikit memalukan. Tapi kalau
memang searah kenapa kemarin dia bisa ada di komplek perumahanku? Sedang apa
dia di sana? Apa dia mata-mata?
Aku menunduk
malu saat menunggu bus datang dan ya, lagi-lagi dia tersenyum geli melihatku. Ketika
bus datang aku segera mencari tempat yang satunya sudah diduduki orang. “Permisi, maaf, bisa geser sedikit’’ kataku
pada seorang wanita muda yang tengah membaca. Lalu dia tersenyum padaku sambil bergeser.
Sebenarnya aku tidak suka melakukan hal ini tapi ini lebih baik dari pada aku duduk
di tempat yang kosong dan pria itu duduk di sebelahku.
“Hai Hyena” panggil seseorang
dari arah belakang. Aku menoleh dan mendapati pria itu duduk tepat di belakang kursiku.
Yang menjadi pertanyaan besar bagiku, kenapa dia bisa tahu namaku?
***
Thanks udah mau meluangkan waktu kalian untuk membacanya. Minta komentar, kritik dan sarannya ya hehehe. Gomawo J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar