Halaman

Welcome to my blog Kpopers

Senin, 14 Mei 2012

[Part 2] Unbelievelbe




Length: Chaptered
Genre: Romance, sad
Main cast: Kang Hyena, Park Johyun,  Lee Sohee, So Seungho
Suporting: Lee Yoonji, Ma Hyeri

Senja di musim gugur tak kalah indahnya dengan pagi.Warna langit yang merah bercampur orange dan terkadang masih terlihat warna birunya, sangat senada dengan warna pohon-pohon yang mulai berguguran. Udaranya pun semakin sejuk, membuatku betah berlama-lama di halaman belakang, memandangi gumpalan awan merah bercampur orange seperti gulali yang sering kumakan ketika SD.
Dan saat langit mulai gelap, kelap-kelip cahaya lampu bertebaran di kota Seoul. Kadang aku suka membayangkan kalau aku sedang berada di New York bukan Seoul. Terkadang suka senyum-senyum sendiri ketika membayangkannya. Aku benar-benar ingin kesana, ke New York. Kota termahal di  Amerika, dan yang terindah menurutku. Disana juga ada Yoonjii sahabatku sejak kecil yang sedang berkuliah jurusan Sains. Oh Tuhan! Betapa beruntungnya Yoonji, kuliah di New York jurusan Sains pula. Aku yakin sepulangnya dia dari New York pasti dia jadi orang yang sangat  jenius.
          “Hyena..” seorang laki-laki bersuara berat memanggilku yang cukup membuatku  terkejut. Karenanya juga aku  membuyarkan semua lamunanku tentang  New York.
“Ayah!”  kataku  kesal. “Tumben ayah pulang saat jam makan malam.”
“Biasanya kau senang kalau ayah pulang cepat. Putri kecil ayah sudah bukan anak kecil lagi rupanya.”  Kadang-kadang, ayah juga memanggilku dengan sebutan ‘putri  kecil’ ayah sama saja dengan ibu.
        “Makan malam sudah siap!” teriak ibu dari ruang makan ketika ayah akan melanjutkan bicara. Ayah tidak jadi bicara dan langsung menuju ruang makan. Aku berencana untuk menanyakan lagi hal kemarin pada ibu tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat.
          Makan malam kali ini benar-benar terasa sangat sunyi. Tidak ada yang bicara satu pun padahal biasanya ibu selalu mengoceh. Tapi setelah ayah menghabisakan makan malamnya dia mulai bicara. “Ehem..” ayah memulai. “Jadi kau serius dengan ucapanmu kemarin malam?” tanyanya padaku.
Aku mendongak sambil menggigit sumpit dan ayah sedang menatapku, “Pertanyaan apa? Yang mana?”
“Kau minta dibelikan aparteman, kan? Kau yakin berani dan bisa tinggal sendiri di sana?” ayah kelihatan serius aku pun mengangguk mantap.
“Ibu tidak yakin kau bisa, kau ini kan anak yang ceroboh,” aku yakin ibu berkata begitu karena tidak ingin aku meninggalkan rumah ini.
          “Sudahlah bu jangan menganggap Hyena seperti anak kecil lagi dia kan sudah besar. Mulai sekarang jangan manjakan dia lagi,” kata ayah pada ibu, “sebenarnya ayah dan ibu sudah membelikanmu sebuah apartemen di dekat kampus. Ayah menunggu saat-saat seperti ini,” ayah memalingkan wajahnya ke arahku dan sekarang dia bicara padaku.
 “Menunggu saat-saat seperti ini? Apa maksudnya?” tanyaku.
“Ahh kau ini kelewat polos, katanya sudah dewasa. Ayah membelikan apartemen sejak kau masuk semester terakhir. Dugaan ayah benar semester terakhir ini kau pasti minta dibelikan apartemen.”  Nada bicara ayah menunjukan seakan-akan aku ini anak manja.
          “Jadi boleh? Kapan aku bisa tinggal di sana?” kataku antusias.
“Kapan saja yang kau mau,” ayah terdengar sangat bijaksana. Tapi ibu terlihat sangat tidak senang. “Ibu sebenarnya ingin kau hidup mandiri tapi ibu masih tidak tega melepasmu,” kata ayah mewakili ibu. Ibu hanya diam tidak bicara sepatah katapun.  
“Tapi kenapa kemarin ibu melarangku?” tanyaku.
“Ya itu tadi,”  jawab  ayah.
***
Hari Minggu yang cerah dan udara sejuk yang pas membuatku bertambah semangat menuju apartemen. Ya, hari ini aku memutuskan untuk tinggal di sana. Aku memasukkan barang-barang ke dalam kotak-kotak besar serapih mungkin. Setelah membujuk selama tiga hari, akhirnya ibu mengizinkanku untuk tinggal sendiri di apartemen dan sekarang dia membantuku mengemasi barang. Sohee juga ikut membantuku. Dia sangat terkejut ketika mendengarku akan tinggal di sebuah apartemen ‘sendiri’.
          “Semua sudah siap?” tanya ayah sambil memasukkan kotak-kotak ke bagasi mobil. Aku mengangguk semangat, ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Ketika mobil ayah keluar, aku melihat pria yang waktu itu menyapaku. Dia berjalan dengan santai dengan kedua tangan dimasukan ke saku jaketnya dan dia tersenyum padaku sambil melambaikan satu tangan. Aku tidak membalas senyumannya malah mengerutkan kening karena bingung, kaca mobil ayahku terlihat gelap dari luar tapi kenapa dia bisa melihatku padahal di samping masih ada Sohee dan dia hanya tersenyum padaku. Apa karena hanya aku yang melihatnya? Sudahlah tidak usah dipikirkan, aku rasa itu tidak penting.
Sepanjang perjalan mataku tidak lepas dari pemandangan musim gugur yang indah ini. Pepohonan semakin hari semakin merah, udara pun semakin dingin. “Sebegitu cintanya ya kau dengan musim gugur?” tanya Sohee.
          Aku mengangguk pasti. “Aku tidak suka musim dingin karena dimana-mana tertutup salju. Jalan, atap rumah, mobil, motor, bangku taman semua tertutup benda putih yang dingin itu. Jalanan juga menjadi licin, udaranya pun sangat tidak bersahabat,” kataku.
“Bagaimana dengan musim panas? Kau menyukainya?” tanya Sohee lagi.
          “Tidak! Aku benci musim panas. Aku harus memakai sunblock setiap kali keluar rumah. Di siang hari, panas semakin menggila. Matahari seakan mengamuk dan udara terasa kotor.” Aku tahu pasti ia akan bertanya soal musim semi. Sebenarnya Sohee pernah menanyakan musim gugur tahun lalu tapi Sohee itu pelupa, kalau aku bilang ia pernah bertanya seperti ini sebelumnya aku yakin ia akan berkata “Apa aku pernah? Aku tidak ingat” aku bosan sekali mendengar perkataan itu.
          “Musim semi? Apa kau tidak suka juga? Musim semi tak kalah indah dengan musim gugur. Bunga-bunga bermekaran, daun-daun di pohon juga mulai kembali, jalanan menjadi hijau dan penuh warna-warni bunga” katanya.
“Ya, aku tahu itu tapi masih lebih indah musim gugur.”
***
Apartemenku terletak di tengah kota, letaknya sangat srategis. Apartemennya cukup luas dan nyaman, balkonnya juga besar dan mengahadap taman yang ada di belakang gedung apartemen. Tamannya luas, banyak pohon bertebaran di sana, mungkin sore ini aku akan bersepeda disitu.
“Hyena, sedang apa kau?” teriak ayah. Ketika sampai apartemen tadi aku langsung pergi ke balkon dan melihat apa saja yang bisa kulihat dari atas sini. Aku selalu suka halaman belakang dan balkon, tidak peduli besar atau kecil yang penting halaman dan balkon itu bisa menunjukan keindahan alam yang menyegarkan ketika aku sedih atau senang. “Hyena,” teriak ayah untuk yang kedua kalinya, sebaiknya aku menghampirinya sebelum dia marah-marah.
“Apa yang harus kulakukan ayah?” tanyaku.
“Tidak, kemari.” Lalu ayah menunjukkan ruang tidurku.
          Menurutku ruang tidur ini sangat glamor. Warna dindingnya hijau muda yang memberikan kesan sejuk dengan tempat tidur yang empuk dan nyaman dilapisi sprei yang lembut bermotif daun-daun musim gugur dan selimut tebal berwarna putih. Ini benar-benar keren, pikirku, dan di samping tempat tidur ada karpet besar nan lembut berpola ala Timur Tengah ditambah TV flat menakjubkan. Di kedua sisi tempat tidur juga ada meja kayu kecil lengkap dengan lampu mejanya. Ada juga rak buku di sudut ruangan dan di sebelahnya terdapat meja tulis. Di dinding sebelah kanak terdapat sebuah papan berukuran sedang untuk menempelkan catatan. Dari dulu kamarku selalu terdapat papan untuk menempelkan catatan-catatan itu karena aku sering lupa.
“Baru ruangan ini yang sempat di ganti catnya. Ruang tengah dan dapur belum sempat..”  .
“Tidak apa-apa. Lagi pula ruang-ruang lain sudah cukup bagus warnanya,” kataku sambil melihat sekeliling. Langit-langit di ruang tengah cukup tinggi, berdinding cream cerah, sofa-sofanya juga sangat nyaman dengan warna coklat tua yang memberikan kesan hangat dan meja kaca dengann vas bunga di tengah-tengah. Setelah melihat ruang tengah aku pergi menuju dapur untuk melihat-lihat. Dapurnya tak kalah keren, sangat bersih dan rapi. Tempat cuci piring terletak di sebelah rak. Piring-piring putih polos yang mengkilap tersusun rapi di rak begitu juga dengan gelas-gelasnya. Kulkas juga sudah penuh dengan makanan, camilan, minuman dan bahan-bahan untuk memasak. Tapi untuk apa ada bahan-bahan seperti itu? Aku kan tidak bisa memasak jadi percuma, kecuali yang ada di lemari yang tergantung di dinding dapur. Di lemari itu baru bisa kumasak. Yaiyalah, siapa yang tidak  bisa masak ramen instan?
          “Bagaimana menurutmu, nak?” tanya ibu dengan senyuman puas. Ibu terlihat senang melihatku terkesan dengan apartemen ini.
“Ini sungguh menakjubkan. Apartemen sederhana tapi begitu glamor dengan warna-warna perabotnya. Terimakasih,” kataku sambil memeluk ibu dan ayah.
“Kau harus menelepon ibu setiap hari. Kalau kau ingin makan tapi tidak bisa masak telpon ibu dan ibu akan segera datang,”  katanya.
“Ibu ini berlebihan sekali. Bagaimana aku bisa mandiri kalau begini. Ibu tenang saja di rumah, aku akan baik-baik saja di sini. Lagipula aku bisa belajar masak dengan Sohee,” aku menyikut lengan Sohee. Sohee langsung mengangguk untuk  meyakinkannya.
“Tapi untuk siang ini ibu akan masak di sini, oke!” ibu langsung pergi ke dapur.
          Tak lama, aroma masakan tercium. Masakan ibuku tidak ada duanya, dari aromanya saja sudah enak.
***
Krrriiiinggg…..
Alarmku begitu mengganggu! Aku masih sangat lelah dan mengantuk, awalnya aku ingin melanjutkan tidur tapi aku ingat ini hari Senin dan aku kuliah pagi.
          Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ketika keluar dari kamar aku mencium aroma masakan, aku rasa ibu masih di sini. “Ibu kau masih di sini rupanya, sedang masak ap….” aku sangat terkejut ketika melihat siapa yang sedang memasak di dapur. “Kau.. kau siapa? Kenapa kau di sini? Sedang apa kau di sini? Kenapa kau bisa ada di dapurku? Ken..” aku merasa pernah melihatnya. Dia orang yang menyapaku saat aku ingin pergi ke kampus ketika masih di rumah ayah.
‘”Tunggu, kau bukannya yang waktu itu menyapaku pagi-pagi dan yang tersenyum padaku kemarin? Kenapa kau bisa ada di sini? Darimana kau tahu password apartemenku? Aku pikir kau tetangga baru di sana.’’
“Tenang dulu biar kujelaskan..”
“Aku tidak mau dengar! Sekarang juga kau keluar, dasar penyusup! Atau jangan-jangan kau ini seorang mata-mata yang sedang memata-mataiku. Kalau tidak darimana kau tahu apartemenku bahkan passwordnya? Ah tidak peduli siapa kau, keluar sekarang juga!” teriakku. Aku terlalu kesal untuk mendengar penjelasannya, siapa yang tidak marah kalau bangun tidur melihat orang asing di apartemen saat kau sedang sendiri? Semua orang yang mengalaminya pasti akan mengira orang ini berniat jahat. Tapi dia malah tertawa seakan aku ini sedang melakukan hal konyol. Entah darimana dia tahu apartemenku tapi aku rasa kemarin dia mengikutiku. Dan darimana dia bisa tahu passwordnya?
          Aku menatapnya tajam dan berusaha menunjukkan kalau aku marah tapi lagi-lagi dia malah tertawa melihat ekspresi wajahku “Hahaha. Kau ini lucu sekali. Tidak perlu marah begitu, aku bukan pencuri. Aku hanya ingin membantumu merapikan tempat ini dan membuat kan sarapan, kau tidak bisa memasak, kan?” tanyanya terdengar meremehkanku. Aku melihat sekeliling dan ternyata benar dia merapikan apartemenku. Kemarin masih banyak kotak-kotak yang berserakan dan barang-barang tidak tertata rapi.
“So??”
“So  what?”
          “Pergi sekarang juga, penyusup! Aku yakin kau punya niat jahat, iya kan? Akui saja!” darahku naik sampai ke ubun-ubun.
“Hemm.. bau apa ini? Aahhh ayam gorengnya gosong. Astaga, ini semua akibat ulahmu, kalau saja kau tidak mengajakku bicara,” katanya sambil mematikan kompor.
“Kenapa kau menyalahkanku? Lagipula siapa suruh kau memasak, siapa suruh kau ada di sini? Dapurku jadi penuh asap dan apartemenku jadi bau gosong, ini semua karena kau bukan aku!” pria itu menghela napas dan meletakkan ayam yang gosong di meja.
“Ayamnya tidak bisa dimakan. Aku buatkan yang lain saja ya,” katanya sambil membuka lemari es.  
“Untuk apa?! Aku kan sudah menyuruhmu keluar sejak tadi. Aku bisa masak sendiri, cepat pergi!” aku membentak pria itu saking kesalnya.
“Kau bisa memasak? Kenapa aku baru tahu. Kau tidak bisa membohongiku, aku tau kau tidak bisa masak” dia meremehkanku lagi. Aku langsung mendorongnya keluar dan membanting pintu ketika dia sudah di luar.
“Dasar penyusup! Masuk ke rumah orang seenaknya!” cercaku. Untuk apa pria itu di sini? Tidak mungkin jika ibu yang menyuruhnya kesini untuk merapikan dan membuat sarapan untukku, ibu pasti akan bertanya padaku dulu. Aku harus segera mengganti password apartemen ini supaya dia tidak masuk sembarangan lagi lalu segera mandi dan bergegas ke kampus.
          Setelah semua beres, aku keluar dan segera pergi ke kampus. Tapi ketika aku keluar dari apartemenku, pria tadi masih di sini. Dia berdiri di depan apartemenku dan dengan santainya bersandar, melipat kedua tangan di depan dadanya, mengenakan headset dan menggerakan kakinya. Tanpa berkata-kata atau apapun, aku segera pergi menghindarinya.
“Hei,” katanya menahan tanganku sambil melepas headsetnya.
“Apa? Kenapa masih di sini? Aku mau kuliah, aku sudah terlambat dan itu  semua gara-gara kau! Jadi sekarang lepaskan tanganku!”
          Lalu dia melepas tanganku dan mengikutiku pergi. Aku menghela napas ketika masuk lift  bersamanya. Aku bergeser menjauh darinya, pria itu terus tersenyum geli melihatku. Setelah keluar dari lift, aku berlari menghindarinya tapi tetap saja dia mengikutiku. Dia berjalan dengan santai tanpa perlu berlari sepertiku. Hebat sekali dia. “Berhentilah mengikutiku!” teriakku supaya orang di sekitarku mendengarnya.
“Siapa yang mengikutimu? Haha kau ini. Tidak ada jalan pulang selain lewat sini.” Baiklah, ini cukup memalukan. Aku yakin wajahku merah padam sekarang. Aku berlari seperti orang gila menghindarinya tapi ternyata arah rumahnya searah denganku, itu sedikit memalukan. Tapi kalau memang searah kenapa kemarin dia bisa ada di komplek perumahanku? Sedang apa dia di sana? Apa dia mata-mata?
          Aku menunduk malu saat menunggu bus datang dan ya, lagi-lagi dia tersenyum geli melihatku. Ketika bus datang aku segera mencari tempat yang satunya sudah diduduki orang.  “Permisi, maaf, bisa geser sedikit’’ kataku pada seorang wanita muda yang tengah membaca. Lalu dia tersenyum padaku sambil bergeser. Sebenarnya aku tidak suka melakukan hal ini tapi ini lebih baik dari pada aku duduk di tempat yang kosong dan pria itu duduk di sebelahku.
“Hai Hyena” panggil seseorang dari arah belakang. Aku menoleh dan mendapati pria itu duduk tepat di belakang kursiku. Yang menjadi pertanyaan besar bagiku, kenapa dia bisa tahu namaku?



*** 

Thanks udah mau meluangkan waktu kalian untuk membacanya. Minta komentar, kritik dan sarannya ya hehehe. Gomawo J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar