Length: Chaptered
Genre: Romance, sad
Main cast: Kang Hyena,
Lee Sohee, So Seungho
Oke, menurut hasil
penelitianku beberapa hari ini: seorang
mahasiswa yang sudah memasuki tahun terakhir kuliahnya tapi masih tinggal dengan
orang tua itu berarti anak manja dan tidak mandiri. Sampai sekarang ini aku
tidak diperbolehkan tinggal sendiri karena alasan yang sangat tidak klasik
‘berbahaya’. Dari kecil ibu selalu memanjakanku. Sebenarnya sih aku senang
disayang seperti itu tapi sepertinya aku terlalu tua untuk dianggap anak-anak. Aku
iri dengan teman-teman yang tinggal di flat atau apartemen. Kadang aku sering dipanggil
‘anak manja’ oleh mereka. Aku tahu itu hanya gurauan dan aku tidak keberatan walaupun
itu menjengkelkan setiap kali aku mendengarnya.
“Bu!” panggilku ketika
ibu sedang sibuk di dapur. Aku berdiri di belakangnya dengan wajah mengharapkan
sesuatu.
“Ada apa sayang?” jawabnya. Aku tidak suka
ketika ibu memanggilku seperti itu, kedengarannya aneh apalagi kalau ibu memanggilku
‘Putri kecil’, aku ini kan bukan lagi anak umur dua belas tahun. Umurku sudah
21 tahun hampir 22 malah. Dan namaku itu Kang Hye Na bukan putri kecil. Aku ingin
ibu memanggilku Hyena.
“Semester terakhir sudah
berjalan sebulan lebih…”
“Ya ibu tahu.
Memangnya kenapa?” aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan ketika mulai
bicara lagi.
“Apakah ibu
tidak senang melihat anaknya hidup mandiri. Bukankah itu yang diinginkan setiap
orang tua?” kataku.
“Maksudmu kau ingin keluar dari rumah ini?”
katanya ketus, “kau itu masih terlalu kecil untuk hidup sendiri..”
“Berhentilah menganggapku
anak kecil bu! Aku ini sudah dewasa. Umurku hampir dua puluh dua tahun masih
bisa dibilang anak kecil?”
Ibu menghela
napas dan menatapku tajam, memang benar, kan? “Ibu tau kan Lee Yoon-JI, Ma
Hye-Ri dan Son-Hee sahabat-sahabatku? Kampus mereka jauh dari orang tua. Yoon-Ji
kuliah di Amerika, Hye-Ri di Jinju. Son-Hee yang juga berasal dari Chuncheon
bisa tinggal sendiri di Seoul, jadi…”
“Jadi kau mau kuliah di
Amerika juga seperti Yoon-Ji atau di Jinju seperti Hye-Ri? Ibu tidak akan pernah
mengizinkannya! Masih kurang apalagi? Kau sudah ibu perbolehkan tinggal di
Seoul.”
“Bukan itu maksudnya bu.
Walaupun kuliah di Seoul aku masih tidak bebas karena ayah dan ibu ikut ke
Seoul menemaniku kuliah. Aku tidak perlu lagi ditemani, aku ini sudah besat.
Boleh tidak aku tinggal sendiri di apartemen dekat kampus? Aku iri dengan teman-teman
sekelasku yang tinggal sendiri dan bekerja paruh waktu. Aku ingin seperti itu bu!”
aku sedikit menekan suaraku.
“Memangnya kau mau
kerja paruh waktu?”
“Mm… sepertinya tidak.
Tapi setidaknya izinkan aku tinggal sendiri, bu.”
Ibuku tidak menggubris
kata-kataku sama sekali. Aku berjalan ke ruang tengah, mengeluh sambil menjatuhkan
tubuhku di sofa. Di sebelahku ada ayah yang terlihat santai membaca koran sambil
menyeruput teh hangatnya. “Yaahh..” desahku.
“Sifatmu dengan ibumu itu sama saja, tidak ada
bedanya.”
“Apa maksud ayah?”
“Manja, keras kepala, dan
kekanak-kanakan. Sifatmu itu persis seperti ibumu ketika SMA,” katanya tanpa berpaling
dari koran yang dia baca.
“Ahh ayah malah
mengejekku bukannya membantu!”
“Memanganya kau ingin ayah membantu apa?” tanyanya seakan dia penakluk
masalah.
“Belikan aku apartemen,”
jawabku enteng.
Ayah cukup
kaget mendengar perkataanku itu dan aku rasa ayah juga tidak akan mengizinkannya
seperti ibu. “Kau ingin tinggal di apartemen? Sendiri?” tanyanya dan aku mengangguk
pasti. “Akhirnya anak ayah bisa dewasa juga. Ayah pikir kau tidak akan pernah
mau berpisah dengan ibumu.”
“Siapa
bilang? Aku merasa mahasiswa yang tidak normal. Jauh-jauh dari Chuncheon ke
Seoul untuk kuliah tapi masih ditemani orang tua. Aku bukan anak SD lagi yang butuh
pengawasan dari orang tua. Aku sudah dewasa.”
“Bagus kalau kau sudah
dewasa,” hanya itu komentar ayah, hanya itu.
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Ayah mau kan membelikanku
apartemen?” Ayah hanya diam tidak menanggapi kata-kataku. Mungkin aku tidak
diizinkan. Yasudahlah, apa boleh buat?
***
Musim gugur sudah berjalan sekitar satu bulan lebih hampir
dua bulan malah. Warna-warna di alam sekitar yang semula hijau berubah menjadi nuansa
cokelat, kuning dan merah. Rumput-rumput pun mulai menjadi cokelat dan beberapa
tanaman yang memiliki bunga-bunga bermekaran saat musim gugur pun mulai bermunculan,
bergantian dengan pohon-pohon yang mulai berguguran kehilangan daunnya.
Festival-festival musim gugur juga banyak diadakan diberbagai tempat
di kota Seoul.
Aku sangat menyukai
musim gugur seperti kebanyakan orang Korea lainnya. Keindahan warna alam yang sangat menakjubkan,
apalagi ketika pagi menjelang dan cahaya matahari mulai menyinari pepohonan cokelat
kemerahan terlihat sangat amat indah. Udaranya yang sejuk juga menjadi nilai
tambah di musim gugur. Aku lebih suka ke
kampus sendiri daripada bersama ayah yang juga pergi ke kantor ketika musim gugur
karena lebih leluasa menikmati indahnya musim gugur. Aku selalu berangkat lebih awal
agar bisa jalan-jalan di taman terlebih dahulu.
Biasanya, fasilitas
pendingin ruangan di transportasi umum seperti bus kota, kereta bawah tanah
mulai dimatikan mengingat suhu yang mulai dingin. Dan sebagai gantinya, fasilitas
penghangat ruangan mulai difungsikan.
Baru saja
aku melangkah keluar rumah, tiba-tiba seorang pria datang menghampiriku.
Sepertinya aku pernah melihat pria ini tapi diamana, ya? Sudahlah tidak
penting, tidak usah dipikirkan. Dia menyapaku, aku pun membalas sapaannya,
sepertinya dia tetangga baru. Setelah itu dia pergi dan tersenyum padaku
sebelum lanjut berjalan. Aku hanya mengangkat alis dan tidak menghiraukannya,
setelah itu aku pergi ke stasiun kereta bawah tanah.
“Hyena!” panggil seseorang ketika aku menuruni tangga
stasiun.
Itu Lee So-Hee teman
baikku di kampus dan di Seoul. Tidak ada teman yang sebaik dia di Seoul.
“Sudah mulai musim gugur.
Berarti aku akan sering pergi dan pulang kuliah bersamamu,” kata So-Hee dengan
suara anggunnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Aku berteman dengannya
sejak masuk di Universitas ini. Jurusanku dan So-Hee juga sama . Kami mengambil
jurusan seni musik. Hyomin sangat hebat dalam
memainkan piano, banyak dosen yang sering memujinya. Tak hanya pintar bermain piano,
So-Hee juga sangat cantik, tinggi dengan mata besar alaminya yang indah, dia
disebut-sebut sebagai wanita paling cantik di fakultas ini. Kadang aku suka minder
ketika jalan berdua dengannya karena aku
ini pendek, kecil, sipit dan tidak secantik
So-Hee. Tapi walaupun dia cantik dan banyak disukai pria, sampai sekarang dia belum
memiliki kekasih.
“Kenapa kau sendiri? Em..
maksudku, kau itu kan cantik, punya mata
dan lipatannya yang sangat sempurna dan alami bahkan kau sangat pintar bermain
piano. Wanita terlihat sangat anggun ketika bermain piano,” kataku sambil tertawa
kecil. So-Hee juga tertawa kecil mendengar perkataanku,
“Kau sendiri kenapa masih sendiri?”
balasnya.
“Kau bisa lihat. Siapa
yang mau dengan wanita jelek sepertiku ini. Cowok-cowok juga mungkin ilfil duluan
ketika melihat tubuhku yang pendek tidak proposional ini. Mata sipit dan pendek
itu sama sekali tidak menarik” aku sedikit merendah tapi memang itu kenyataannya. Tawa So-Hee meledak mendengar hal itu.
“Hahaha… kau ini,
jangan merendah begitu. Siapa bilang kau jelek. Kau itu cantik dan matamu itu tidak
sipit. Rambutmu panjang bergelombang, sama sepertiku. Lihatlah,” So-Hee menyodorkan
cermin kecil ketika masuk dan duduk di dalam kereta. “Benarkan? Matamu itu tidak
sipit, kau bahkan punya sedikit lipatan mata. Kau putih dan juga tidak pendek, tinggimu
170, kan?” katanya. 170? Aku rasa So-Hee
hanya ingin menghiburku.
“Sebenarnya tinggiku
hanya 167, So-Hee. Aku rasa kaulah yang tingginya 170 atau mungkin lebih, ya kan?”
“Ya, mungkin sekitar 175. Sudahlah berhenti
merendahkan diri sendiri. Itu berarti kau tidak bersyukur dengan pemberian Tuhan.
Menurutku wanita memainkan biola jauh lebih anggun ketimbang memainkan piano. Kau
itu lebih hebat. Kau tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk
belajar biola, kan? Aku butuh setidaknya lima tahun
untuk belajar piano sedangkan kau hanya dalam waktu lima bulan
sudah sangat hebat.” So-Hee selalu saja membuatku merasa tidak terlalu buruk sebagai seorang wanita.
Sesampainya di
kampus, aku menabrak Seo Seung-Ho atau lebih singkatnya Seung-Ho si kutu buku tampan
yang tidak bisa jauh-jauh dari bukunya.
Bahkan saat berjalan pun dia tidak memperhatikan langkanya saking asyiknya membaca.
Sebenarnya aku melihat dia berjalan di depanku tapi karena dia jalan sambil membaca
buku aku iseng menabraknya. “Maaf Seung-Ho,” kataku sambil mengambil bukunya yang
jatuh. “Lain kali jangan jalan sambil baca buku, bahaya! Ini baru menabrakku bagaimana
jika kau menabrak mobil atau truk?” kadang aku suka kesal
melihatnya yang sangat cinta dengan bukunya itu karena dia jadi mengabaikan segalanya,
contoh kecilnya ya itu tadi.
Walaupun begitu,
Seung-Ho tidak sama sekali terlihat culun, cupu atau sebagainya yang biasa identik
dengan sebutan ‘kutu buku’. Seung-Ho sangat
cool apalagi ketika dia bermain gitar akustik, wanita akan menjerit-jerit
melihatnya. Park In-Jung salah satunya. Wanita yang sangat tergila-gila dengan Seung-Ho.
Tapi Seung-Ho tidak pernah tahu kalau In-Jung suka dengannya padahal In-Jung sering
menunjukkan sifat ketertarikannya di depan Seung-Ho, sungguh, itu memalukan!
Dari pertama
masuk kuliah, In-Jung tidak pernah suka denganku, dia selalu menyaingiku. Aku rasa
dia tidak perlu melakukan hal itu karena dia jauh lebih baik dariku. Cantik, suaranya
merdu, tinggi, putih, matanya besar walaupun itu hasil operasi tapi tetap saja dia
dibilang sempurna. Alasan dia menyaingiku karena Seung-Ho. Seung-Ho sudah lama
menyukaiku. Setiap hari dia selalu menyindir atau bahkan memakiku. Tapi aku
tidak pernah menghiraukannya, berusaha sabar dan tidak tersinggung. Padahal aku
tidak pernah menyukai Seung-Ho tapi tetap saja dia membenciku. In-Jung tidak
pernah lelah bertengkar denganku.
“Aku pikir
kau sudah gugur di musim gugur ini. Kenapa kau tidak gugur-gugur? Cepatlah
gugur aku sudah muak melihatmu, anak manja,” kata In-Jung tepat di depan
wajahku ketika aku masuk kelas. Dia ingin sekali aku menghilang supaya dia bisa
lebih dekat dengan Seung-Ho. Padahal sikapnya yang selalu kasar padaku malah
membuat Sung-Ho tidak menyukainya. Kadang Seung-Ho meringis kesal ketika
In-Jung memakiku.
Aku hanya
diam seolah tidak ada orang yang bicara padaku. Sifatnya kekanak-kanakan
daripada aku, bukan?
Ni part pertamanya. Sorry
belom banyak persiapan, poster gk ada, main castnya juga belom semua tapi di part
duanya gue bikin lebih menarik lagi. Oh ya soal main cast gue gk pake artis di sini,
namanya gue karang-karang hehe. Dilarang
keras plagiat ff ini! Happy Reading J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar