Halaman

Welcome to my blog Kpopers

Jumat, 11 Mei 2012

[Part 1] Unbelieveble





Length: Chaptered
Genre: Romance, sad
Main cast: Kang Hyena, Lee Sohee, So Seungho

Oke, menurut hasil penelitianku beberapa hari ini:  seorang mahasiswa yang sudah memasuki tahun terakhir kuliahnya tapi masih tinggal dengan orang tua itu berarti anak manja dan tidak mandiri. Sampai sekarang ini aku tidak diperbolehkan tinggal sendiri karena alasan yang sangat tidak klasik ‘berbahaya’. Dari kecil ibu selalu memanjakanku. Sebenarnya sih aku senang disayang seperti itu tapi sepertinya aku terlalu tua untuk dianggap anak-anak. Aku iri dengan teman-teman yang tinggal di flat atau apartemen. Kadang aku sering dipanggil ‘anak manja’ oleh mereka. Aku tahu itu  hanya gurauan dan aku tidak keberatan walaupun itu menjengkelkan setiap kali aku mendengarnya.
“Bu!” panggilku ketika ibu sedang sibuk di dapur. Aku berdiri di belakangnya dengan wajah mengharapkan sesuatu.
          “Ada apa sayang?” jawabnya. Aku tidak suka ketika ibu memanggilku seperti itu, kedengarannya aneh apalagi kalau ibu memanggilku ‘Putri kecil’, aku ini kan bukan lagi anak umur dua belas tahun. Umurku sudah 21 tahun hampir 22 malah. Dan namaku itu Kang Hye Na bukan putri kecil. Aku ingin ibu memanggilku Hyena.
“Semester terakhir sudah berjalan sebulan lebih…”
“Ya ibu tahu. Memangnya kenapa?” aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan ketika mulai bicara lagi.
          “Apakah ibu tidak senang melihat anaknya hidup mandiri. Bukankah itu yang diinginkan setiap orang tua?” kataku.
 “Maksudmu kau ingin keluar dari rumah ini?” katanya ketus, “kau itu masih terlalu kecil untuk hidup sendiri..”
“Berhentilah menganggapku anak kecil bu! Aku ini sudah dewasa. Umurku hampir dua puluh dua tahun masih bisa dibilang anak kecil?”
          Ibu menghela napas dan menatapku tajam, memang benar, kan? “Ibu tau kan Lee Yoon-JI, Ma Hye-Ri dan Son-Hee sahabat-sahabatku? Kampus mereka jauh dari orang tua. Yoon-Ji kuliah di Amerika, Hye-Ri di Jinju. Son-Hee yang juga berasal dari Chuncheon bisa tinggal sendiri di Seoul, jadi…”
“Jadi kau mau kuliah di Amerika juga seperti Yoon-Ji atau di Jinju seperti Hye-Ri? Ibu tidak akan pernah mengizinkannya! Masih kurang apalagi? Kau sudah ibu perbolehkan tinggal di Seoul.”  
“Bukan itu maksudnya bu. Walaupun kuliah di Seoul aku masih tidak bebas karena ayah dan ibu ikut ke Seoul menemaniku kuliah. Aku tidak perlu lagi ditemani, aku ini sudah besat. Boleh tidak aku tinggal sendiri di apartemen dekat kampus? Aku iri dengan teman-teman sekelasku yang tinggal sendiri dan bekerja paruh waktu. Aku ingin seperti itu bu!” aku sedikit menekan suaraku.
“Memangnya kau mau kerja paruh waktu?”
“Mm… sepertinya tidak. Tapi setidaknya izinkan aku tinggal sendiri, bu.”
          Ibuku tidak menggubris kata-kataku sama sekali. Aku berjalan ke ruang tengah, mengeluh sambil menjatuhkan tubuhku di sofa. Di sebelahku ada ayah yang terlihat santai membaca koran sambil menyeruput teh hangatnya. “Yaahh..” desahku.
 “Sifatmu dengan ibumu itu sama saja, tidak ada bedanya.”
“Apa maksud ayah?”
“Manja, keras kepala, dan kekanak-kanakan. Sifatmu itu persis seperti ibumu ketika SMA,” katanya tanpa berpaling dari koran yang dia baca.
“Ahh ayah malah mengejekku bukannya membantu!”
“Memanganya kau  ingin ayah membantu apa?” tanyanya seakan dia penakluk masalah.
“Belikan aku apartemen,” jawabku enteng.
          Ayah cukup kaget mendengar perkataanku itu dan aku rasa ayah juga tidak akan mengizinkannya seperti ibu. “Kau ingin tinggal di apartemen? Sendiri?” tanyanya dan aku mengangguk pasti. “Akhirnya anak ayah bisa dewasa juga. Ayah pikir kau tidak akan pernah mau berpisah dengan ibumu.”
          “Siapa bilang? Aku merasa mahasiswa yang tidak normal. Jauh-jauh dari Chuncheon ke Seoul untuk kuliah tapi masih ditemani orang tua. Aku bukan anak SD lagi yang butuh pengawasan dari orang tua. Aku sudah dewasa.”
“Bagus kalau kau sudah dewasa,”  hanya itu komentar ayah, hanya itu.
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Ayah mau kan membelikanku apartemen?” Ayah hanya diam tidak menanggapi kata-kataku. Mungkin aku tidak diizinkan. Yasudahlah, apa boleh buat?
***
Musim gugur sudah berjalan sekitar satu bulan lebih hampir dua bulan malah. Warna-warna di alam sekitar yang semula hijau berubah menjadi nuansa cokelat, kuning dan merah. Rumput-rumput pun mulai menjadi cokelat dan beberapa tanaman yang memiliki bunga-bunga bermekaran saat musim gugur pun mulai bermunculan, bergantian dengan pohon-pohon yang mulai berguguran kehilangan daunnya. Festival-festival   musim gugur juga banyak diadakan diberbagai tempat di kota Seoul.
          Aku sangat menyukai musim gugur seperti kebanyakan orang Korea lainnya.  Keindahan warna alam yang sangat menakjubkan, apalagi ketika pagi menjelang dan cahaya matahari mulai menyinari pepohonan cokelat kemerahan terlihat sangat amat indah. Udaranya yang sejuk juga menjadi nilai tambah di musim gugur.  Aku lebih suka ke kampus sendiri daripada bersama ayah yang juga pergi ke kantor ketika musim gugur karena lebih leluasa menikmati indahnya  musim gugur. Aku selalu berangkat lebih awal agar bisa jalan-jalan di taman terlebih dahulu.
          Biasanya, fasilitas pendingin ruangan di transportasi umum seperti bus kota, kereta bawah tanah mulai dimatikan mengingat suhu yang mulai dingin. Dan sebagai gantinya, fasilitas penghangat  ruangan mulai difungsikan.
          Baru saja aku melangkah keluar rumah, tiba-tiba seorang pria datang menghampiriku. Sepertinya aku pernah melihat pria ini tapi diamana, ya? Sudahlah tidak penting, tidak usah dipikirkan. Dia menyapaku, aku pun membalas sapaannya, sepertinya dia tetangga baru. Setelah itu dia pergi dan tersenyum padaku sebelum lanjut berjalan. Aku hanya mengangkat alis dan tidak menghiraukannya, setelah itu aku pergi ke stasiun kereta bawah tanah.
“Hyena!”  panggil seseorang ketika aku menuruni tangga stasiun.
Itu Lee So-Hee teman baikku di kampus dan di Seoul. Tidak ada teman yang sebaik dia di Seoul.
“Sudah mulai musim gugur. Berarti aku akan sering pergi dan pulang kuliah bersamamu,” kata So-Hee dengan suara anggunnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Aku berteman dengannya sejak masuk di Universitas ini. Jurusanku dan So-Hee juga sama . Kami mengambil  jurusan  seni musik. Hyomin sangat hebat dalam memainkan piano, banyak dosen yang sering memujinya. Tak hanya pintar bermain piano, So-Hee juga sangat cantik, tinggi dengan mata besar alaminya yang indah, dia disebut-sebut sebagai wanita paling cantik di fakultas ini. Kadang aku suka minder ketika jalan berdua dengannya  karena aku ini pendek,  kecil, sipit dan tidak secantik So-Hee. Tapi walaupun dia cantik dan banyak disukai pria, sampai sekarang dia belum memiliki kekasih.
“Kenapa kau sendiri? Em..  maksudku, kau itu kan cantik, punya mata dan lipatannya yang sangat sempurna dan alami bahkan kau sangat pintar bermain piano. Wanita terlihat sangat anggun ketika bermain piano,” kataku sambil tertawa kecil. So-Hee juga tertawa kecil mendengar  perkataanku,
“Kau  sendiri  kenapa  masih  sendiri?”  balasnya.
“Kau bisa lihat. Siapa yang mau dengan wanita jelek sepertiku ini. Cowok-cowok juga mungkin ilfil duluan ketika melihat tubuhku yang pendek tidak proposional ini. Mata sipit dan pendek itu sama sekali tidak menarik” aku sedikit merendah tapi memang itu  kenyataannya. Tawa So-Hee meledak mendengar  hal  itu.
“Hahaha… kau ini, jangan merendah begitu. Siapa bilang kau jelek. Kau itu cantik dan matamu itu tidak sipit. Rambutmu panjang bergelombang, sama sepertiku. Lihatlah,” So-Hee menyodorkan cermin kecil ketika masuk dan duduk di dalam kereta. “Benarkan? Matamu itu tidak sipit, kau bahkan punya sedikit lipatan mata. Kau putih dan juga tidak pendek, tinggimu 170, kan?” katanya. 170?  Aku rasa So-Hee hanya ingin menghiburku.
“Sebenarnya tinggiku hanya 167, So-Hee. Aku rasa kaulah yang tingginya 170 atau mungkin lebih, ya kan?”
“Ya,  mungkin sekitar 175. Sudahlah berhenti merendahkan diri sendiri. Itu berarti kau tidak bersyukur dengan pemberian Tuhan. Menurutku wanita memainkan biola jauh lebih anggun ketimbang memainkan piano. Kau itu lebih hebat. Kau tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar biola, kan? Aku butuh setidaknya  lima  tahun  untuk  belajar  piano sedangkan kau hanya dalam waktu lima bulan sudah sangat hebat.” So-Hee selalu saja membuatku merasa tidak  terlalu buruk sebagai seorang wanita.
          Sesampainya di kampus, aku menabrak Seo Seung-Ho atau lebih singkatnya Seung-Ho si kutu buku tampan yang tidak bisa jauh-jauh dari  bukunya. Bahkan saat berjalan pun dia tidak memperhatikan langkanya saking asyiknya membaca. Sebenarnya aku melihat dia berjalan di depanku tapi karena dia jalan sambil membaca buku aku iseng menabraknya. “Maaf Seung-Ho,” kataku sambil mengambil bukunya yang jatuh. “Lain kali jangan jalan sambil baca buku, bahaya! Ini baru menabrakku bagaimana jika  kau  menabrak mobil atau truk?” kadang aku suka kesal melihatnya yang sangat cinta dengan bukunya itu karena dia jadi mengabaikan segalanya, contoh kecilnya ya itu tadi.
          Walaupun begitu, Seung-Ho tidak sama sekali terlihat culun, cupu atau sebagainya yang biasa identik dengan sebutan ‘kutu  buku’. Seung-Ho sangat cool apalagi ketika dia bermain gitar akustik, wanita akan menjerit-jerit melihatnya. Park In-Jung salah satunya. Wanita yang sangat tergila-gila dengan Seung-Ho. Tapi Seung-Ho tidak pernah tahu kalau In-Jung suka dengannya padahal In-Jung sering menunjukkan sifat ketertarikannya di depan Seung-Ho, sungguh, itu memalukan!
          Dari pertama masuk kuliah, In-Jung tidak pernah suka denganku, dia selalu menyaingiku. Aku rasa dia tidak perlu melakukan hal itu karena dia jauh lebih baik dariku. Cantik, suaranya merdu, tinggi, putih, matanya besar walaupun itu hasil operasi tapi tetap saja dia dibilang sempurna. Alasan dia menyaingiku karena Seung-Ho. Seung-Ho sudah lama menyukaiku. Setiap hari dia selalu menyindir atau bahkan memakiku. Tapi aku tidak pernah menghiraukannya, berusaha sabar dan tidak tersinggung. Padahal aku tidak pernah menyukai Seung-Ho tapi tetap saja dia membenciku. In-Jung tidak pernah lelah bertengkar denganku.
          “Aku pikir kau sudah gugur di musim gugur ini. Kenapa kau tidak gugur-gugur? Cepatlah gugur aku sudah muak melihatmu, anak manja,” kata In-Jung tepat di depan wajahku ketika aku masuk kelas. Dia ingin sekali aku menghilang supaya dia bisa lebih dekat dengan Seung-Ho. Padahal sikapnya yang selalu kasar padaku malah membuat Sung-Ho tidak menyukainya. Kadang Seung-Ho meringis kesal ketika In-Jung memakiku.
          Aku hanya diam seolah tidak ada orang yang bicara padaku. Sifatnya kekanak-kanakan daripada aku, bukan?







Ni part pertamanya. Sorry belom banyak persiapan, poster gk ada, main castnya juga belom semua tapi di part duanya gue bikin lebih menarik lagi. Oh ya soal main cast gue gk pake artis di sini, namanya gue karang-karang hehe. Dilarang keras plagiat ff ini! Happy Reading J



Tidak ada komentar:

Posting Komentar