Halaman

Welcome to my blog Kpopers

Rabu, 16 Mei 2012

[Part 3] Unbelieveble








Length: Chaptered
Genre: Romance, sad
Main cast: Kang Hyena, Park Johyun  Lee Sohee, So Seungho
Suporting: Lee Yoonji, Ma Hyeri

“Oke everbody. The class is over. Don’t forget to do your assignment, see you tomorrow. And em.. annyeonghi gyeseyo, everybody,” itulah sedikit usaha guru asingku untuk berbahasa Korea. Dia Mr. William yang berasal dari Australia. Walaupun dia berasal dari  negara yang berbahasa Inggris, dia di sini tidak untuk mengajar bahasa Inggris. Mr. William mengajar bagaimana cara mengaransemen lagu-lagu klasik, dia komposer yang sangat jenius.
          Dosenku yang satu ini sangat sibuk, bukan hanya di Korea tapi juga di negara asalnya. Dia bukan hanya sebagai dosen di Korea tapi juga sebagai arsitek di Australia. Kadang dia lupa menagih tugas yang diberikan kepada kami sampai berminggu-minggu karena kesibukannya sendiri.
Jam menunjukkan pukul tiga. Sudah sangat sore bagiku tapi aku ingin mencari beberapa pernak-pernik untuk menghias apartemenku. “Kau mau ikut eonni?” tanyaku pada Sohee. Aku sering memanggilnya eonni karena umur Sohee sedikit lebih tua dariku. Aku sudah menganggapnya seperti kakaku sendiri begitu juga dengannya. Aku dan Sohee senasib, sama-sama tidak punya saudara.   
“Tentu saja. Aku juga ingin mencari sesuatu yang lucu dan unik untuk diletakkan di apartemenku,” jawabnya. Eonni Sohee sudah lebih lama tinggal sendiri dan hidup mandiri, tidak seperitku.
          Aku dan Sohee pergi ke sebuah mal dengan kereta bawah tanah. “Pagi ini aku tidak melihatmu. Kau ke kampus naik apa?” tanyanya.
“Aku ke kampus menggunakan bus. Kampus tidak terlalu jauh dari apartemenku,” kataku.  “Tahu tidak?!” kataku  sedikit  berbisik.
Sohee menggelengkan kepala dan berkata “Tidak, kau kan belum memberi tahu, memangnya  ada  apa? Apartemenmu berhantu?” aku mengecap lidah.
“Bukan itu eonni, dengar dulu”
“Baiklah”
“Hemm..” aku memulai. “Jadi, tadi pagi ada penyusup yang masuk ke apartemenku.”
“Apa? Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia berbuat jahat terhadapmu?”
          “Tidak, dia tidak melakukan itu. Dia merapikan apartemenku dan membuatkan sarapan untukku. Sebelumnya aku pernah bertemu dengannya seminggu sebelum pindah dan saat pindah kemarin.” Sohee menatapku bingung.
          “Memangnya ada penyusup yang baik seperti itu? Kau sedang bergurau ya. Aku tidak melihatnya kemarin,” katanya dengan mata disipitkan.
“Tidak, aku serius dia hanya melihatku kemarin. Aku tidak mengenalinya tapi wajahnya tidak asing bagiku. Aku juga merasa pernah bertemu sebelumnya tapi aku lupa.”
“Dasar pelupa. Penyakit lupamu sudah lebih parah dariku rupanya.”
          Sohee mencondongkan tubuhnya kedepan lalu berkata “Emm… apa dia tampan? Kira-kira umurnya berapa?” katanya. Aku melihatnya sambil menyipitkan mataku dan tersenyum mengejek. Wajah Sohee langsung merah, sepertinya dia malu dengan pertanyaannya sendiri tapi biar begitu dia bertanya lagi.
“Kalau dilihat-lihat sih wajahnya cukup tampan,” kataku santai.
“Sebutkan ciri-cirinya?” Sohee terlihat penasaran.
“Dia tinggi, sepertinya hampir sama denganmu. Lalu dia juga putih, hidungnya mancung, matanya  besar emm.. apalagi, ya,” aku menjawab pertanyaannya dengan santai.
“Dia bukan tipeku. Aku tidak suka cowok yang bermata besar. Aku suka yang sipit-sipit” kami  tertawa setelah Sohee bilang begitu.
***
Aku pulang dari mal sekitar pukul tujuh. Cukup melahkan tapi juga mengasyikan. Jalan-jalan bersama Sohee memang selalu menyenangkan. Dia banyak memberi saran untukku. Seandainya saja dia kaka kandungku aku akan lebih bahagia.
          Ketika masuk ke apartemenku, aku mencium aroma masakan lagi. Kuharap bukan pria tadi pagi yang ada di dapurku. Kalau dicium dari aromanya ini masakan ibu, ya aku yakin ini  ibu! “Kau sudah pulang rupanya. Tepat sekali, aku baru saja selesai masak makan malam,”  ternyata tebakanku salah besar! Pria itu, pria yang tadi pagi! Dia di sini lagi! Oh Tuhan, menyebalkan sekali dia, masuk ke rumah orang sembarangan tanpa permisi.
“Hei!!” teriakku sambil memukul lengannya.
          “Kau tidak punya sopan santun ya! Masuk rumah orang seenaknya. Kau pasti punya niat jahat. Jangan-jangan kau mau berbuat macam-macam terhadapku, ya?” yang membuat ku kesal, dia hanya senyum-senyum. Apa dia pikir kalau senyumannya itu bisa meredam kemarahanku? Yang benar saja!
“Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tidak sejahat itu...” ujarnya.
 “Kalau tidak sehajat itu berarti kau lebih jahat dan setelah itu kau akan membunuhku,” aku mundur selangkah sambil memeluk erat tasku.
“Dengar ya, aku di sini bukan ingin membunuhmu atau tindakkan kriminal lainnya. Aku hanya ingin membantumu.”
“Membantu apa? Mengenalmu saja tidak.” cercaku.
“Bagus kalau kau tidak ingat,”
“Tidak ingat apa? Memangnya kita pernah bertemu?”
“Baiklah nona kecil, perkenalkan namaku Park Johyun. Kau bisa memanggilku Johyun atau Jo saja atau apapun yang kau mau” katanya mengalihkan pembicaraan.
“Bagaimana jika aku memanggilmu paman?!” kataku ketus.
“Hah? Paman? Kau pikir aku sudah tua ya? Aku hanya setahun lebih tua darimu.”
          “Aku tidak peduli, kau mau setahun atau bertahun-tahun lebih tua dariku aku tetap akan memanggilmu paman. Tadi kan kau sendiri yang bilang boleh memanggilmu apa saja,” aku masih dengan nada bicara seperti tadi.
          “Yasudah kalau begitu panggil aku Johyun?!” aku tidak memperdulikan kata-katanya. Aku memandangnya sinis tapi dia malah tersenyum padaku.
“Tunggu apa lagi, ayo kita makan” dia memegang kedua pundakku dan menggiringku ke meja makan bahkan dia menarikkan bangku untukku. “Silakan  Nona  kecil” lanjutnya, laganya itu benar-benar seperti pelayan!
          “Kau sedang menghinaku, ya? Bisa tidak kau memanggilku Hyena saja? Aku tidak mau dipanggil nona kecil! Aku tahu tubuhku kecil, sifatku juga masih kekanak-kanakan tapi dengan panggillan kecil-kecil begitu aku jadi merasa semakin kecil dan tidak pernah tumbuh dewasa.” Dia tertawa kecil sambil mengangguk. Dia mulai makan tapi aku tidak, aku diam dan memperhatikannya. Aku berpikir, kenapa pria ini bisa sok akrab? Wajahnya memang tidak terlihat asing bagiku, aku merasa pernah bertemu tapi aku tidak ingat sama sekali atau mungkin itu hanya perasaanku saja?
          “Kenapa tidak dimakan, ini enak,” astaga, aku baru mendengar orang yang memuji masakannya sendiri. Sahabatku Jihyun yang jago memasak saja suka merendah dan berkata ‘Ah masakanku biasa saja’.
“Aku tidak mau!” kataku ketus.
“Aku tahu kau lapar. Cepat makan sebelum kuhabiskan.”
“Habiskan saja, aku tidak lapar!” aku tidak melihat wajahnya sedikitpun. Aku hanya melihat ke luar jendela.
          “Aku tidak apa-apa kau bohongi. Tapi jangan bohongi diri sendiri. Kelihatan dari wajahmu kalau kau lapar.” Entah kenapa raut wajahku mudah sekali ditebak. Kalau sedih atau senang itu biasa semua orang tahu tapi aku? Bukan hanya senang dan sedih, hal-hal sepele pun terlihat dari wajahku, aku bingung kenapa bisa begitu. Perlahan aku mengambil sumpit.  Sebenarnya teriyaki yang dibuat pria ini sangat menggoda sejak tadi, tapi aku ragu-ragu untuk memakannya, takut diracuni atau sebagainya tapi berhubung aku sangat lapar jadi mau tidak mau aku mekannya.
           Aku rasa teriyaki ini cukup, ah tidak, teriyaki ini sangat lezat bahkan lebih lezat dari buatan ibuku dan teriyaki yang ada di restoran-restoran Jepang. “Enak?” tanyanya saat aku mulai memasukkan teriyaki ke dalam mulut. Aku menggigit bibirku saat dia bertanya dan memperhatikanku. Tatapannya yang tajam membuatku gugup dan susah mengunyah. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan menunduk berusaha untuk tidak melihat wajahnya sambil mengambil mangkuk. “Aku anggap itu jawaban iya,” lanjutnya.
***
“Hei, bangunlah!”
Arrggghhh alarm macam apa itu?  Aku berusaha keras membuka mata dan…
“Astaga!” teriakku ketika melihat wajah pria menyebalkan itu berada tepat di depan wajahku. “Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini di sini, di kamarku? Apa kau melakukan sesuatu?” aku memeluk bantalku erat-erat dan menjauh darinya.
          “Aku tidak melakukan apa-apa, jangan menuduhku sembarangan. Ini hari Kamis, kau libur kuliah, kan?” tanyanya.  
“Darimana kau tahu?” tanyaku.  
“Melihat jadwal yang kau tempel di papan yang ada di situ,” katanya sambil menunjuk papan yang berada di belakangku.
“Papan? Aku kan baru menempelnya kemarin pagi” kataku heran.
“Aku melihatnya kemarin siang,” katanya dengan santai sambil memegang kedua kakinya dan meletakkan dagu di kedua lututnya.
“Kemarin siang? Berarti kemarin kau menyusup lagi, ya? Kau pasti mata-mata, iya kan? Akui saja! Dasar Menyebalkan!” aku melempar bantal padanya tapi bantal itu berhasil ditangkap sebelum mengenai wajahnya. Padahal aku sudah hampir mengenainya. Sial!
“Kau punya otak tidak? Kalau ada orang yang melihat kau sering kesini mereka pasti akan berpikir yang macam-macam, mereka juga pasti berpikir aku ini bukan wanita baik-baik,” lanjutku dengan nada kesal.
“Kau tidak usah khawatir orang yang tinggal di seberang sana keluar pukul sepuluh pagi dan pulang pukul dua belas malam. Orang yang tinggal di sebelah apartemenmu keluar pukul sembilan pagi dan pulang pukul sepuluh malam. Sedangkan aku datang kesini pukul tujuh dan sekitar pukul dua sebelum kau pulang kuliah…”
“Darimana kau tahu itu semua? Aku saja tidak tahu,” kataku menyela pembicaraannya.
“Sisanya keluar pukul sembilan hingga sepuluh pagi, pulangnya juga begitu. Di lantai ini semua pekerja kantoran dan sebagainya, mereka juga sangat sibuk tidak mungkin mereka mengurusi hal seperti ini. Dan di lantai ini hanya kau yang seorang mahasiswa.”
“Benarkah?” Kataku sambil memiringkan kepala. Aku bingung kenapa dia bisa tahu banyak seperti itu, apa dia juga tinggal di sini? Tapi tidak mungkin. “Tunggu tadi kau bilang mereka sangat sibuk dan tidak mungkin mengurusi hal seperti ini?” lanjutku sambil menopang dagu. “Berarti dia semakin mudah menjahatiku, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” gumamku pelan tapi terdengar olehnya.
“Sudahku bilang aku tidak akan berbuat jahat padamu.”
“Haruskah aku percaya dengan orang yang tidak kukenal dan mencurigakan? Aku akan telepon polisi,” aku beranjak dari tempat tidur lalu mengambil ponselku. Tapi dia menahan tanganku dengan keras. “Apa kau akan membunuhku kalau aku telepon polisi?” kataku hati-hati sambil menunduk. Sejenak dia diam lalu tertawa singkat.
“Dengar ini baik-baik ya , AKU TIDAK AKAN MEMBUNUHMU ATAU TINDAKAN KRIMINAL LAINNYA,” pria itu menekan suaranya dan bicara tepat di depan telingaku. Aku mundur selangkah lalu dia melepaskan tanganku.
“Mm.. baiklah,” aku masih tidak berani menatapnya dan pria itu tertawa kecil.
“Kau ada rencana hari ini?” lanjutnya.
 “Apa? Mm.. ya. Aku mau ke rumah ayah.”
          “Ohh, tidak usah takut begitu. Padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini.”
          “Mengajakku jalan-jalan? Walaupun hari ini aku tidak ke rumah ayah, aku tidak mau pergi denganmu, tidak akan!” kataku. Dia tertawa kecil lagi. Selalu saja begitu, menertawai setiap perkataanku seakan aku ini anak kecil yang penuh khayal di setiap kata-kata yang  kukeluarkan.
          “Oh ya,” katanya, “aku sudah membuatkanmu sarapan” dia menarik tanganku dengan lembut. Aku segera melepaskannya .
 “Kenapa sih kau sepeti ini, kenal kau saja tidak.”
 “Bukankah malam Senin kemarin kita sudah berkenalan?”  
“Oh  iya, ya. Emm.. siapa namamu? Park Jodong, Park Johye atau siapasih namamu aku lupa?” tanyaku enteng.
Lalu dia menghela napas sambil berkata “Park Johyun! Baru dua hari yang lalu kau sudah lupa bagaimana yang bertahun-tahun,” katanya meledekku. Setelah itu kami sarapan bersama seperti Senin malam. Sebenarnya aku sangat malas untuk sarapan bersama pria menyebalkan ini tapi berhubung aku lapar, apa boleh buat? Dengan terpaksa aku sarapan bersamanya. Dia membuatkanku roti lapis dan coklat hangat. Seusai sarapan aku menyuruhnya pergi karena aku  tidak mau keluar bersamanya seperti tempo hari. Dan kali ini aku memastikan dia benar-benar pergi, tidak menungguku di depan pintu lagi.
***
Setelah mandi aku siap-siap pergi ke rumah ayah. Mumpung cuaca sedang bagus aku pergi menggunakan sepeda lipat yang kubawa dari rumah. Aku menentengnya dulu supaya pengguna lift yang lain tidak terganggu. Karena memang tidak mungkin juga menggunakan sepeda di dalam lift.
          Di dalam lift aku bertemu Seungho si kutu buku tampan. “Annyeonghaseyo,” sapaku padanya.  
“Annyeonghaseyo,” dia membalas sapaanku bahkan dia membungkukkan sedikit badannya.
“Kau tinggal di apartemen ini juga, di lantai berapa?” tanyaku.
“Ya, aku tinggal di lantai tujuh belas, kau?”
 “Aku di lantai dua belas, cukup jauh” jawabku. Mataku tertuju pada sesuatu yang dibawanya. Dia juga membawa sepeda lipat.
“Kau mau kemana?” tanyaku
“Emm.. hanya ingin jalan-jalan di sekitar sini. Mau bergabung?”
“Bergabung? Memangnya kau mau pergi dengan siapa?”
          Seungho tersenyum jail lalu melanjutkan “Sebenarnya tidak dengan siapa-siapa. Aku sendiri. Jadi kau mau kemana? Kalau kau mau berkeliling sekitar sini aku bisa menemanimu, kau baru kan disini?” tanyanya. Sepertinya lebih menarik berkeliling dengan Seungho. Aku mengangguk setuju sambil tersenyum, Seungho juga membalas senyumanku.
          Setelah itu kami berjalan menelusuri taman yang berada di belakang apartemen. Tidakku sangka kalau tamannya seluas ini bahkan ada danau kecil. Pohon-pohon di sini juga terlihat indah, semuanya coklat kemerahan tapi ada juga beberapa yang sudah tidak memiliki daun. Jalan setapak juga sudah di tumpuki daun-daun kering. Setelah dari taman, kami pergi mengelilingi daerah sekitar sini.
***
Seusai berjalan-jalan kami pun kembali ke apartemen. Dari pagi hingga sore kami jalan-jalan menggunakan sepeda dan hebatnya tidak ada rasa lelah. “Sampai jumpa besok,”  kata Seungho sambil tersenyum dan melambaikan tangan ketika aku keluar dari lift. Aku balas melambai dan memberikan senyuman.
          Baru kali ini aku bersepeda selama ini. Dari matahari terbit sampai terbenam. Hari mulai gelap dan aku baru sampai! Kalau ibu tahu soal ini pasti dia marah. Ketika aku membuka pintu apartemen, seluruh ruangan nampak gelap, aku menyalakan lampu di ruang tengah.
Klikk..
“Jadi kau berbohong?” tanya seseorang yang berdiri di depanku ketika aku menyalakan lampu dan itu sangat mengejutkanku. Johyun!
          Dengan refleks aku mendorongnya. Tangannya masih terlipat di depan dada dan sekarang wajahnya terlihat marah padaku. “Apa?’’ tanyaku kasar melihat tatapannya itu.
          “Tadi kau bilang kau akan pergi ke rumah ayahmu tapi kau malah jalan berdua dengan pria itu!” katanya yang terdengar sangat marah.
          “Memangnya kenapa? Apa urusanmu?! Suka-suka aku mau pergi kemana dan dengan siapa! Jangan mengatur, memangnya kau pikir kau siapa? Pacarku?” cercaku. Memangnya dia pikir dia siapa marah-marah begitu.
          Johyun meringis, “Rupanya sekarang kau sudah bisa berbohong ya?” katanya dengan nada meremehkan. Aku menatapnya tajam dan menyipitkannya sedikit.  
“Tahu apa kau tentang diriku. Sok tahu!” kataku ketus.
“Aku tahu segalanya tentangmu. Dari dulu hingga sekarang..”  
“Dari mana kau tahu dan untuk apa kau tahu?” tanyaku heran. Johyun hanya menggeleng dengannya sambil tersenyum sinis. Aneh! Benar-benar aneh! Kenapa dia bisa tahu segalanya tentangku? Apa aku pernah mengenalnya dulu? Aku memang merasa pernah bertemu dengannya tapi aku lupa tepatnya ‘benar-benar’ lupa. Aku mencoba mengingat tapi tidak bisa.
          “Sudahlah aku mau istirahat! Lagipula sedang apa kau disini? Ohh aku tahu pasti kau  menyusup lagi,” tuduhku. “Aku harus segera mengganti password,” gumamku dengan suara pelan tapi tetap terdengar oleh Johyun.
          “Sepertinya kau tidak perlu repot-repot melakukan hal itu karena aku akan tetap bisa masuk,” katanya dengan sombong. Aku benar-benar bingung kenapa bisa seperti itu. Entah dia punya sihir apa yang pasti dia sangat menyebalkan!
          “Berhentilah memata-mataiku..”
          “Aku tidak memata-mataimu tenang saja.”
          “Lalu kenapa kau bisa tahu banyak? Dari mulai diriku sampai yang disekitarku?” Aku mulai menaikkan suaraku.
          “Itu em.. sudahlah aku hanya sementara di sini sesudah kau…”
          “Sesudah aku mati? Kau pasti pembunuh bayaran.”
          “Bisa tidak kau tidak memotong pembicaraanku? Dengar ini baik-baik, aku bukan mata-mata atau pembunuh bayaran, aku di sini juga bukan untuk menyakitimu. Nanti kalau sudah waktunya kau juga akan tahu. Harus sampai berapa kali kau bertanya seperti itu dan harus berapa kali aku menjawabnya?”
          “Sampai kau pergi dari sini dan tidak mengusik kehidupanku.” Aku semakin kesal dengannya.
          Johyun menghela napas dengan cepat. Dasar pria menyebalkan!
***
Johyun terus mengunjungiku sampai minggu-minggu berikutnya. Membangunkanku dengan menepuk-nepuk pipiku yang membuatku sangat terkejut, lalu membuatkan sarapan, juga sepulang kuliah. Baru beberapa menit sampai dia datang bahkan tak jarang dia sudah di dalam apartemenku sebelum aku pulang.
          “Kenapa kau selalu kesini? Apa maksudmu? Apa yang kau inginkan dariku?” Johyun tidak pernah menjawab pertanyaanku itu.
          Makin hari aku makin kesal dengan sikapnya. Anehnya, walaupun aku sering marah-marah, berteriak di depan wajahnya dan sebagainya dia tidak pernah tersinggung atau balik marah. Johyun hanya tersenyum, tersenyum dan terus tersenyum seakan senyumannya itu indah padahal sih senyumannya itu membuatku muak. Aku bingung harus dengan cara apalagi mengusirnya. Aku terus memarahinya dan menyuruhnya untuk tidak datang lagi tapi tetap saja dia ke apartemenku. Apasih maunya? Apa yang dia ingin kan dariku? Sejauh ini dia memang belum melakukan hal-hal buruk kepadaku. Tapi aku harus tetap waspada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar