Length: Chaptered
Genre: Romance, sad
Main cast: Kang Hyena,
Park Johyun Lee Sohee, So Seungho
Suporting: Lee Yoonji,
Ma Hyeri
“Oke everbody. The class is over. Don’t forget to do your assignment,
see you tomorrow. And em.. annyeonghi gyeseyo, everybody,” itulah sedikit usaha
guru asingku untuk berbahasa Korea. Dia Mr. William yang berasal dari Australia.
Walaupun dia berasal dari negara yang
berbahasa Inggris, dia di sini tidak untuk mengajar bahasa Inggris. Mr. William
mengajar bagaimana cara mengaransemen lagu-lagu klasik, dia komposer yang
sangat jenius.
Dosenku yang
satu ini sangat sibuk, bukan hanya di Korea tapi juga di negara asalnya. Dia
bukan hanya sebagai dosen di Korea tapi juga sebagai arsitek di Australia. Kadang
dia lupa menagih tugas yang diberikan kepada kami sampai berminggu-minggu
karena kesibukannya sendiri.
Jam menunjukkan pukul tiga.
Sudah sangat sore bagiku tapi aku ingin mencari beberapa pernak-pernik untuk
menghias apartemenku. “Kau mau ikut eonni?” tanyaku pada Sohee. Aku sering memanggilnya
eonni karena umur Sohee sedikit lebih tua dariku. Aku sudah menganggapnya seperti
kakaku sendiri begitu juga dengannya. Aku dan Sohee senasib, sama-sama tidak punya
saudara.
“Tentu saja. Aku juga
ingin mencari sesuatu yang lucu dan unik untuk diletakkan di apartemenku,”
jawabnya. Eonni Sohee sudah lebih lama tinggal sendiri dan hidup mandiri, tidak
seperitku.
Aku dan Sohee
pergi ke sebuah mal dengan kereta bawah tanah. “Pagi ini aku tidak melihatmu. Kau
ke kampus naik apa?” tanyanya.
“Aku ke kampus
menggunakan bus. Kampus tidak terlalu jauh dari apartemenku,” kataku. “Tahu tidak?!” kataku sedikit berbisik.
Sohee menggelengkan kepala
dan berkata “Tidak, kau kan belum memberi tahu, memangnya ada apa? Apartemenmu berhantu?” aku mengecap
lidah.
“Bukan itu eonni,
dengar dulu”
“Baiklah”
“Hemm..” aku memulai.
“Jadi, tadi pagi ada penyusup yang masuk ke apartemenku.”
“Apa? Apa yang dia lakukan
padamu? Apa dia berbuat jahat terhadapmu?”
“Tidak, dia tidak melakukan itu. Dia
merapikan apartemenku dan membuatkan sarapan untukku. Sebelumnya aku pernah
bertemu dengannya seminggu sebelum pindah dan saat pindah kemarin.” Sohee menatapku
bingung.
“Memangnya
ada penyusup yang baik seperti itu? Kau sedang bergurau ya. Aku tidak
melihatnya kemarin,” katanya dengan mata disipitkan.
“Tidak, aku serius dia
hanya melihatku kemarin. Aku tidak mengenalinya tapi wajahnya tidak asing
bagiku. Aku juga merasa pernah bertemu sebelumnya tapi aku lupa.”
“Dasar pelupa. Penyakit
lupamu sudah lebih parah dariku rupanya.”
Sohee
mencondongkan tubuhnya kedepan lalu berkata “Emm… apa dia tampan? Kira-kira
umurnya berapa?” katanya. Aku melihatnya sambil menyipitkan mataku dan tersenyum
mengejek. Wajah Sohee langsung merah, sepertinya dia malu dengan pertanyaannya
sendiri tapi biar begitu dia bertanya lagi.
“Kalau dilihat-lihat
sih wajahnya cukup tampan,” kataku santai.
“Sebutkan ciri-cirinya?”
Sohee terlihat penasaran.
“Dia tinggi, sepertinya
hampir sama denganmu. Lalu dia juga putih, hidungnya mancung, matanya besar emm.. apalagi, ya,” aku menjawab
pertanyaannya dengan santai.
“Dia bukan tipeku. Aku
tidak suka cowok yang bermata besar. Aku suka yang sipit-sipit” kami tertawa setelah Sohee bilang begitu.
***
Aku pulang dari mal sekitar pukul tujuh. Cukup melahkan tapi
juga mengasyikan. Jalan-jalan bersama Sohee memang selalu menyenangkan. Dia
banyak memberi saran untukku. Seandainya saja dia kaka kandungku aku akan lebih
bahagia.
Ketika masuk
ke apartemenku, aku mencium aroma masakan lagi. Kuharap bukan pria tadi pagi yang
ada di dapurku. Kalau dicium dari aromanya ini masakan ibu, ya aku yakin ini ibu! “Kau sudah pulang rupanya. Tepat sekali,
aku baru saja selesai masak makan malam,” ternyata tebakanku salah besar! Pria itu, pria
yang tadi pagi! Dia di sini lagi! Oh Tuhan, menyebalkan sekali dia, masuk ke rumah
orang sembarangan tanpa permisi.
“Hei!!” teriakku
sambil memukul lengannya.
“Kau tidak
punya sopan santun ya! Masuk rumah orang seenaknya. Kau pasti punya niat jahat.
Jangan-jangan kau mau berbuat macam-macam terhadapku, ya?” yang membuat ku kesal,
dia hanya senyum-senyum. Apa dia pikir kalau senyumannya itu bisa meredam
kemarahanku? Yang benar saja!
“Jangan berpikir yang
macam-macam. Aku tidak sejahat itu...” ujarnya.
“Kalau tidak sehajat itu berarti kau lebih
jahat dan setelah itu kau akan membunuhku,” aku mundur selangkah sambil memeluk
erat tasku.
“Dengar ya, aku di
sini bukan ingin membunuhmu atau tindakkan kriminal lainnya. Aku hanya ingin
membantumu.”
“Membantu apa? Mengenalmu
saja tidak.” cercaku.
“Bagus kalau kau tidak
ingat,”
“Tidak ingat apa?
Memangnya kita pernah bertemu?”
“Baiklah nona kecil,
perkenalkan namaku Park Johyun. Kau bisa memanggilku Johyun atau Jo saja atau
apapun yang kau mau” katanya mengalihkan pembicaraan.
“Bagaimana jika aku
memanggilmu paman?!” kataku ketus.
“Hah? Paman? Kau pikir
aku sudah tua ya? Aku hanya setahun lebih tua darimu.”
“Aku tidak peduli, kau mau setahun atau
bertahun-tahun lebih tua dariku aku tetap akan memanggilmu paman. Tadi kan kau sendiri
yang bilang boleh memanggilmu apa saja,” aku masih dengan nada bicara seperti
tadi.
“Yasudah kalau
begitu panggil aku Johyun?!” aku tidak memperdulikan kata-katanya. Aku memandangnya
sinis tapi dia malah tersenyum padaku.
“Tunggu apa lagi, ayo
kita makan” dia memegang kedua pundakku dan menggiringku ke meja makan bahkan dia
menarikkan bangku untukku. “Silakan Nona
kecil” lanjutnya, laganya itu benar-benar
seperti pelayan!
“Kau sedang
menghinaku, ya? Bisa tidak kau memanggilku Hyena saja? Aku tidak mau dipanggil
nona kecil! Aku tahu tubuhku kecil, sifatku juga masih kekanak-kanakan tapi
dengan panggillan kecil-kecil begitu aku jadi merasa semakin kecil dan tidak
pernah tumbuh dewasa.” Dia tertawa kecil sambil mengangguk. Dia mulai makan tapi
aku tidak, aku diam dan memperhatikannya. Aku berpikir, kenapa pria ini bisa
sok akrab? Wajahnya memang tidak terlihat asing bagiku, aku merasa pernah
bertemu tapi aku tidak ingat sama sekali atau mungkin itu hanya perasaanku saja?
“Kenapa
tidak dimakan, ini enak,” astaga, aku baru mendengar orang yang memuji
masakannya sendiri. Sahabatku Jihyun yang jago memasak saja suka merendah dan
berkata ‘Ah masakanku biasa saja’.
“Aku tidak mau!”
kataku ketus.
“Aku tahu kau lapar.
Cepat makan sebelum kuhabiskan.”
“Habiskan saja, aku
tidak lapar!” aku tidak melihat wajahnya sedikitpun. Aku hanya melihat ke luar
jendela.
“Aku tidak apa-apa
kau bohongi. Tapi jangan bohongi diri sendiri. Kelihatan dari wajahmu kalau kau
lapar.” Entah kenapa raut wajahku mudah sekali ditebak. Kalau sedih atau senang
itu biasa semua orang tahu tapi aku? Bukan hanya senang dan sedih, hal-hal
sepele pun terlihat dari wajahku, aku bingung kenapa bisa begitu. Perlahan aku mengambil
sumpit. Sebenarnya teriyaki yang dibuat pria
ini sangat menggoda sejak tadi, tapi aku ragu-ragu untuk memakannya, takut
diracuni atau sebagainya tapi berhubung aku sangat lapar jadi mau tidak mau aku
mekannya.
Aku rasa teriyaki ini cukup, ah tidak, teriyaki
ini sangat lezat bahkan lebih lezat dari buatan ibuku dan teriyaki yang ada di
restoran-restoran Jepang. “Enak?” tanyanya saat aku mulai memasukkan teriyaki ke
dalam mulut. Aku menggigit bibirku saat dia bertanya dan memperhatikanku. Tatapannya
yang tajam membuatku gugup dan susah mengunyah. Aku tidak menjawab pertanyaannya
dan menunduk berusaha untuk tidak melihat wajahnya sambil mengambil mangkuk. “Aku
anggap itu jawaban iya,” lanjutnya.
***
“Hei, bangunlah!”
Arrggghhh alarm macam
apa itu? Aku berusaha keras membuka mata
dan…
“Astaga!” teriakku
ketika melihat wajah pria menyebalkan itu berada tepat di depan wajahku. “Apa yang
kau lakukan pagi-pagi begini di sini, di kamarku? Apa kau melakukan sesuatu?”
aku memeluk bantalku erat-erat dan menjauh darinya.
“Aku tidak melakukan
apa-apa, jangan menuduhku sembarangan. Ini hari Kamis, kau libur kuliah, kan?”
tanyanya.
“Darimana kau tahu?” tanyaku.
“Melihat jadwal yang kau
tempel di papan yang ada di situ,” katanya sambil menunjuk papan yang berada di
belakangku.
“Papan? Aku kan baru
menempelnya kemarin pagi” kataku heran.
“Aku melihatnya kemarin
siang,” katanya dengan santai sambil memegang kedua kakinya dan meletakkan dagu
di kedua lututnya.
“Kemarin siang? Berarti
kemarin kau menyusup lagi, ya? Kau pasti mata-mata, iya kan? Akui saja! Dasar Menyebalkan!”
aku melempar bantal padanya tapi bantal itu berhasil ditangkap sebelum mengenai
wajahnya. Padahal aku sudah hampir mengenainya. Sial!
“Kau punya otak tidak?
Kalau ada orang yang melihat kau sering kesini mereka pasti akan berpikir yang
macam-macam, mereka juga pasti berpikir aku ini bukan wanita baik-baik,” lanjutku
dengan nada kesal.
“Kau tidak usah
khawatir orang yang tinggal di seberang sana keluar pukul sepuluh pagi dan
pulang pukul dua belas malam. Orang yang tinggal di sebelah apartemenmu keluar
pukul sembilan pagi dan pulang pukul sepuluh malam. Sedangkan aku datang kesini
pukul tujuh dan sekitar pukul dua sebelum kau pulang kuliah…”
“Darimana kau tahu itu
semua? Aku saja tidak tahu,” kataku menyela pembicaraannya.
“Sisanya keluar pukul
sembilan hingga sepuluh pagi, pulangnya juga begitu. Di lantai ini semua
pekerja kantoran dan sebagainya, mereka juga sangat sibuk tidak mungkin mereka
mengurusi hal seperti ini. Dan di lantai ini hanya kau yang seorang mahasiswa.”
“Benarkah?” Kataku
sambil memiringkan kepala. Aku bingung kenapa dia bisa tahu banyak seperti itu,
apa dia juga tinggal di sini? Tapi tidak mungkin. “Tunggu tadi kau bilang
mereka sangat sibuk dan tidak mungkin mengurusi hal seperti ini?” lanjutku
sambil menopang dagu. “Berarti dia semakin mudah menjahatiku, bagaimana ini?
Apa yang harus kulakukan?” gumamku pelan tapi terdengar olehnya.
“Sudahku bilang aku
tidak akan berbuat jahat padamu.”
“Haruskah aku percaya
dengan orang yang tidak kukenal dan mencurigakan? Aku akan telepon polisi,” aku
beranjak dari tempat tidur lalu mengambil ponselku. Tapi dia menahan tanganku
dengan keras. “Apa kau akan membunuhku kalau aku telepon polisi?” kataku
hati-hati sambil menunduk. Sejenak dia diam lalu tertawa singkat.
“Dengar ini baik-baik
ya , AKU TIDAK AKAN MEMBUNUHMU ATAU TINDAKAN KRIMINAL LAINNYA,” pria itu menekan
suaranya dan bicara tepat di depan telingaku. Aku mundur selangkah lalu dia
melepaskan tanganku.
“Mm.. baiklah,” aku
masih tidak berani menatapnya dan pria itu tertawa kecil.
“Kau ada rencana hari ini?”
lanjutnya.
“Apa? Mm.. ya. Aku mau ke rumah ayah.”
“Ohh, tidak
usah takut begitu. Padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini.”
“Mengajakku jalan-jalan? Walaupun hari ini
aku tidak ke rumah ayah, aku tidak mau pergi denganmu, tidak akan!” kataku. Dia
tertawa kecil lagi. Selalu saja begitu, menertawai setiap perkataanku seakan aku
ini anak kecil yang penuh khayal di setiap kata-kata yang kukeluarkan.
“Oh ya,”
katanya, “aku sudah membuatkanmu sarapan” dia menarik tanganku dengan lembut.
Aku segera melepaskannya .
“Kenapa sih kau sepeti ini, kenal kau saja
tidak.”
“Bukankah malam Senin kemarin kita sudah berkenalan?”
“Oh iya, ya. Emm.. siapa namamu? Park Jodong, Park
Johye atau siapasih namamu aku lupa?” tanyaku enteng.
Lalu dia menghela napas
sambil berkata “Park Johyun! Baru dua hari yang lalu kau sudah lupa bagaimana
yang bertahun-tahun,” katanya meledekku. Setelah itu kami sarapan bersama seperti
Senin malam. Sebenarnya aku sangat malas untuk sarapan bersama pria menyebalkan
ini tapi berhubung aku lapar, apa boleh buat? Dengan terpaksa aku sarapan
bersamanya. Dia membuatkanku roti lapis dan coklat hangat. Seusai sarapan aku
menyuruhnya pergi karena aku tidak mau
keluar bersamanya seperti tempo hari. Dan kali ini aku memastikan dia
benar-benar pergi, tidak menungguku di depan pintu lagi.
***
Setelah mandi aku siap-siap pergi ke rumah ayah. Mumpung
cuaca sedang bagus aku pergi menggunakan sepeda lipat yang kubawa dari rumah.
Aku menentengnya dulu supaya pengguna lift yang lain tidak terganggu. Karena
memang tidak mungkin juga menggunakan sepeda di dalam lift.
Di dalam lift
aku bertemu Seungho si kutu buku tampan. “Annyeonghaseyo,” sapaku padanya.
“Annyeonghaseyo,” dia membalas
sapaanku bahkan dia membungkukkan sedikit badannya.
“Kau tinggal di apartemen
ini juga, di lantai berapa?” tanyaku.
“Ya, aku tinggal di
lantai tujuh belas, kau?”
“Aku di lantai dua belas, cukup jauh” jawabku.
Mataku tertuju pada sesuatu yang dibawanya. Dia juga membawa sepeda lipat.
“Kau mau kemana?” tanyaku
“Emm.. hanya ingin jalan-jalan
di sekitar sini. Mau bergabung?”
“Bergabung? Memangnya
kau mau pergi dengan siapa?”
Seungho tersenyum
jail lalu melanjutkan “Sebenarnya tidak dengan siapa-siapa. Aku sendiri. Jadi kau
mau kemana? Kalau kau mau berkeliling sekitar sini aku bisa menemanimu, kau baru
kan disini?” tanyanya. Sepertinya lebih menarik berkeliling dengan Seungho. Aku
mengangguk setuju sambil tersenyum, Seungho juga membalas senyumanku.
Setelah itu
kami berjalan menelusuri taman yang berada di belakang apartemen. Tidakku sangka
kalau tamannya seluas ini bahkan ada danau kecil. Pohon-pohon di sini juga terlihat
indah, semuanya coklat kemerahan tapi ada juga beberapa yang sudah tidak memiliki
daun. Jalan setapak juga sudah di tumpuki daun-daun kering. Setelah dari taman,
kami pergi mengelilingi daerah sekitar sini.
***
Seusai berjalan-jalan kami pun kembali ke apartemen. Dari pagi
hingga sore kami jalan-jalan menggunakan sepeda dan hebatnya tidak ada rasa
lelah. “Sampai jumpa besok,” kata Seungho
sambil tersenyum dan melambaikan tangan ketika aku keluar dari lift. Aku balas melambai
dan memberikan senyuman.
Baru kali
ini aku bersepeda selama ini. Dari matahari terbit sampai terbenam. Hari mulai gelap
dan aku baru sampai! Kalau ibu tahu soal ini pasti dia marah. Ketika aku
membuka pintu apartemen, seluruh ruangan nampak gelap, aku menyalakan lampu di ruang
tengah.
Klikk..
“Jadi kau berbohong?” tanya
seseorang yang berdiri di depanku ketika aku menyalakan lampu dan itu sangat
mengejutkanku. Johyun!
Dengan
refleks aku mendorongnya. Tangannya masih terlipat di depan dada dan sekarang wajahnya
terlihat marah padaku. “Apa?’’ tanyaku kasar melihat tatapannya itu.
“Tadi kau bilang kau akan pergi ke rumah
ayahmu tapi kau malah jalan berdua dengan pria itu!” katanya yang terdengar sangat
marah.
“Memangnya kenapa?
Apa urusanmu?! Suka-suka aku mau pergi kemana dan dengan siapa! Jangan mengatur,
memangnya kau pikir kau siapa? Pacarku?” cercaku. Memangnya dia pikir dia siapa
marah-marah begitu.
Johyun
meringis, “Rupanya sekarang kau sudah bisa berbohong ya?” katanya dengan nada meremehkan.
Aku menatapnya tajam dan menyipitkannya sedikit.
“Tahu apa kau tentang
diriku. Sok tahu!” kataku ketus.
“Aku tahu segalanya tentangmu.
Dari dulu hingga sekarang..”
“Dari mana kau tahu
dan untuk apa kau tahu?” tanyaku heran. Johyun hanya menggeleng dengannya sambil
tersenyum sinis. Aneh! Benar-benar aneh! Kenapa dia bisa tahu segalanya tentangku?
Apa aku pernah mengenalnya dulu? Aku memang merasa pernah bertemu dengannya tapi
aku lupa tepatnya ‘benar-benar’ lupa. Aku mencoba mengingat tapi tidak bisa.
“Sudahlah
aku mau istirahat! Lagipula sedang apa kau disini? Ohh aku tahu pasti kau menyusup lagi,” tuduhku. “Aku harus segera mengganti
password,” gumamku dengan suara pelan tapi tetap terdengar oleh Johyun.
“Sepertinya kau
tidak perlu repot-repot melakukan hal itu karena aku akan tetap bisa masuk,” katanya
dengan sombong. Aku benar-benar bingung kenapa bisa seperti itu. Entah dia punya
sihir apa yang pasti dia sangat menyebalkan!
“Berhentilah
memata-mataiku..”
“Aku tidak
memata-mataimu tenang saja.”
“Lalu kenapa
kau bisa tahu banyak? Dari mulai diriku sampai yang disekitarku?” Aku mulai
menaikkan suaraku.
“Itu em..
sudahlah aku hanya sementara di sini sesudah kau…”
“Sesudah aku
mati? Kau pasti pembunuh bayaran.”
“Bisa tidak kau
tidak memotong pembicaraanku? Dengar ini baik-baik, aku bukan mata-mata atau
pembunuh bayaran, aku di sini juga bukan untuk menyakitimu. Nanti kalau sudah
waktunya kau juga akan tahu. Harus sampai berapa kali kau bertanya seperti itu
dan harus berapa kali aku menjawabnya?”
“Sampai kau
pergi dari sini dan tidak mengusik kehidupanku.” Aku semakin kesal dengannya.
Johyun
menghela napas dengan cepat. Dasar pria menyebalkan!
***
Johyun terus mengunjungiku sampai minggu-minggu berikutnya.
Membangunkanku dengan menepuk-nepuk pipiku yang membuatku sangat terkejut, lalu
membuatkan sarapan, juga sepulang kuliah. Baru beberapa menit sampai dia datang
bahkan tak jarang dia sudah di dalam apartemenku sebelum aku pulang.
“Kenapa kau
selalu kesini? Apa maksudmu? Apa yang kau inginkan dariku?” Johyun tidak pernah
menjawab pertanyaanku itu.
Makin hari aku
makin kesal dengan sikapnya. Anehnya, walaupun aku sering marah-marah, berteriak
di depan wajahnya dan sebagainya dia tidak pernah tersinggung atau balik marah.
Johyun hanya tersenyum, tersenyum dan terus tersenyum seakan senyumannya itu indah
padahal sih senyumannya itu membuatku muak. Aku bingung harus dengan cara
apalagi mengusirnya. Aku terus memarahinya dan menyuruhnya untuk tidak datang
lagi tapi tetap saja dia ke apartemenku. Apasih maunya? Apa yang dia ingin kan
dariku? Sejauh ini dia memang belum melakukan hal-hal buruk kepadaku. Tapi aku
harus tetap waspada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar